Reporter: Raka Mahesa Wardhana | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. PT BW Plantation Tbk (BWPT) akan mengakuisisi lahan baru seluas 10.000 hektar (ha) hingga 15.000 ha November ini. Dengan tambahan tersebut, total luas lahan BWPT tahun ini akan menjadi 103.000 ha-108.000 ha. ”Negosiasi sudah tahap final, bulan depan selesai,” kata Kelik Irwantono, Sekretaris Perusahaan BWPT pada KONTAN, Jumat (14/10). Lahan tersebut ada di Kalimantan.
Perusahaan memang memerlukan lahan baru untuk menjaga pertumbuhan kinerja. Tanpa lahan baru, lahan BWPT habis tertanam pada tahun 2014. Sebab perusahaan melakukan penanaman baru setiap tahun.
Tahun ini BWPT menambah tanaman baru sekitar 10.000 ha. Sekadar gambaran, lahan tertanam perusahaan 2010 mencapai 52.060 ha. Per akhir Juni 2011, sudah 56.476 ha.
Akuisisi lahan merupakan bagian dari rencana perusahaan memiliki total lahan seluas 150.000 ha dalam empat tahun mendatang. Penambahan lahan dilakukan secara bertahap agar lebih efisien. ”Dalam setahun paling banyak perseroan bisa menanam sekitar 14.000 hektar,” kata Kelik. Satu kendala yang dihadapi untuk menanam lebih banyak adalah ketersedian tenaga kerja dalam jumlah besar.
Karena masih dalam proses negosiasi, manajemen menolak menyebut nilai akuisisi lahan tersebut. Yang jelas, BWPT akan menggunakan kas internal untuk melakukan akuisisi tersebut. Manajemen juga menolak menjelaskan posisi keuangan perseroan per akhir September 2011. Per Juni kas dan setara kas BWPT sebesar Rp 221,09 miliar.
Langkah BWPT menghindari utang agar rasio utang terhadap ekuitas (DER) tetap di kisaran 1,5 kali. Manajemen memperkirakan, akhir tahun ini DER BWPT sekitar 1,5 kali. Per Juni lalu, DER perseroan sebesar 1,18 kali, dengan ekuitas Rp 1,26 triliun dan total utang senilai Rp 1,49 triliun.
Rasio utang terhadap ekuitas tersebut naik, karena utang perseroan bertambah. September lalu, anak usaha BWPT. PT Sawit Sukses Sejahtera (SSS), mengantongi pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) senilai Rp 1,3 triliun. “Tahun ini perusahaan akan mencairkan sekitar Rp 500 miliar saja. Sisanya dicairkan bertahap,” kata Kelik.
Kredit itu terdiri dari kredit kebun Rp 1,04 triliun, bertenor delapan tahun. Lalu, kredit investasi pembangunan pabrik kelapa sawit Rp 221,5 miliar berjangka 11 tahun. Bunga kedua pinjaman 10% per tahun. Untuk kredit modal kerja, SSS mendapat pinjaman maksimal Rp 46,5 miliar dengan tenor 48 bulan dan bunga 10% per tahun. Kredit ini akan digunakan untuk pemeliharaan tanaman menghasilkan.
Untuk menjaga DER tetap 1,5 kali, perusahaan akan membayar pokok utang sesuai dengan jadwal. Tahun ini perseroan akan melunasi utang sekitar Rp 200 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













