kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

BI Tahan Suku Bunga di 4,75%, Begini Rekomendasi Saham Emiten Properti


Sabtu, 24 Januari 2026 / 11:00 WIB
BI Tahan Suku Bunga di 4,75%, Begini Rekomendasi Saham Emiten Properti
ILUSTRASI. Kinerja properti 2026 tak lagi bergantung penjualan unit meski BI pangkas suku bunga acuan


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penahanan suku bunga Bank Indonesia (BI) di level 4,75% dianggap belum bisa menjadi katalis kinerja emiten properti di tahun 2026.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menjelaskan, penahanan suku bunga BI di 4,75% bakal berdampak cenderung netral ke emiten properti. Sebab, cicilan KPR tidak memburuk tetapi juga belum cukup murah untuk mendorong lonjakan permintaan. 

Stabilitas suku bunga dinilai bisa membantu menjaga sentimen, namun tidak cukup kuat memicu rebound penjualan. Dengan rupiah yang masih fluktuatif dan daya beli yang belum pulih penuh, konsumen juga cenderung menunda pembelian properti. 

“Ruang penurunan suku bunga tetap ada, tetapi lebih realistis terjadi paruh kedua 2026 jika inflasi jinak dan pertumbuhan melemah. Artinya, awal 2026 masih fase stabilisasi, bukan akselerasi,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).

Baca Juga: Investor Ritel Membanjir, Risiko Saham Gorengan Ikut Mengintai

Sentimen positif untuk emiten properti di tahun 2026 datang dari insentif PPN DTP, permintaan hunian kebutuhan dasar, urbanisasi, dan proyek 3 juta rumah pemerintah.

“Serta, mulai besarnya kontribusi pendapatan berulang (recurring income), seperti sewa mall, apartemen, dan logistik,” ungkapnya.

Sementara, sentimen negatif untuk sektor ini adalah suku bunga BI yang belum melanjutkan penurunannya, daya beli yang rapuh, serta stok sisa dari penjualan sebelumnya. 

Lisa bilang, lesunya raihan pendapatan prapenjualan alias marketing sales sepanjang tahun 2025 juga berpotensi menekan pendapatan 2026. Sebab, akan ada lag effect pengakuan pendapatan di laporan keuangan emiten. 

“Namun dampak ini bisa diredam jika porsi recurring income meningkat dan biaya dikontrol ketat,” tuturnya.

Ke depan, kinerja emiten properti akan semakin kurang bergantung pada penjualan unit dan lebih ditopang kestabilan arus kas dari aset sewaan. 

“Gaya hidup ditengarai berubah, sekarang 70% orang lebih berpikir untuk sewa saja dibandingkan membeli rumah,” kata Liza.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, penahanan dan penurunan suku bunga tak mampu untuk menopang kinerja emiten properti.

Baca Juga: Bidik Pertumbuhan Kinerja di 2026, Simak Strategi Sinar Eka Selaras (ERAL)

“Sektor properti dinilai butuh juga kebijakan prudensial yang bisa mendorong daya beli masyarakat, seperti insentif,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.

Segmen rumah tapak pun dilihat merupakan salah satu aset yang menopang kinerja emiten properti di tahun ini, tetapi lebih fokus ke produk berharga rendah yang juga terkena insentif PPN DTP.

Alhasil, emiten properti besar dengan aset mewah lebih akan fokus pada segmen pendapatan berulang alias recurring income untuk menjaga arus kas.

“Namun, dengan ekspektasi penurunan tingkat suku bunga yang bisa meningkatkan konsumsi dan daya beli, pertumbuhan kinerja sektor properti seharusnya akan lebih inline di tahun ini,” tuturnya.

 

Nico pun merekomendasikan beli untuk BSDE, SMRA, dan CTRA dengan target harga masing-masing Rp 1.240 per saham, Rp 570 per saham, dan Rp 1.300 per saham.

Selanjutnya: Wajib Tahu! Singkatan Agensi K-Pop Ini Punya Kisah Mengejutkan

Menarik Dibaca: Wajib Tahu! Singkatan Agensi K-Pop Ini Punya Kisah Mengejutkan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×