Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 5,75% membuka peluang bagi investor untuk mengunci imbal hasil (yield) yang lebih tinggi di pasar obligasi. Di sisi lain, kondisi suku bunga tinggi juga membuat emiten harus menawarkan kupon lebih besar untuk menarik minat investor.
Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, mengatakan kenaikan BI Rate yang dilakukan sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang tahun 2026, telah mendorong kenaikan yield di pasar obligasi domestik, baik Surat Berharga Negara (SBN) maupun obligasi korporasi.
Menurutnya, dalam kondisi saat ini penerbit obligasi korporasi tidak memiliki banyak pilihan selain menawarkan kupon yang lebih tinggi dibandingkan periode 2024-2025. Namun, besaran kenaikan kupon tetap bergantung pada kualitas kredit masing-masing emiten.
Baca Juga: Era Suku Bunga Tinggi, Saham Properti Masih Menarik?
"Kami melihat spread kredit tetap menjadi faktor utama, sehingga perusahaan dengan peringkat AAA relatif hanya menaikkan kupon secara terbatas, sementara emiten dengan rating menengah harus memberikan premi yang lebih besar" ujar Domingus kepada Kontan, Kamis (18/6/2026).
Dengan kondisi saat ini, Domingus menilai obligasi korporasi dengan rating AAA masih menarik pada kisaran kupon 7,0%–8,0%. Sementara obligasi berperingkat AA dinilai menarik pada kisaran 8,0%–9,0%, sedangkan obligasi rating A dapat menarik apabila menawarkan kupon 9,0%–10,5% dengan fundamental yang kuat.
Dibandingkan deposito yang saat ini umumnya menawarkan bunga sekitar 4%–6% bruto dan SBN tenor menengah yang bergerak di kisaran 7%, obligasi korporasi yang memberikan spread tambahan 150–300 basis poin (bps) masih dinilai menawarkan kompensasi risiko yang menarik.
Meski demikian, Domingus menegaskan investor tidak seharusnya hanya berfokus pada kupon tertinggi. "Fokus investor saat ini bukan semata mengejar kupon tertinggi, tetapi memperoleh kombinasi antara yield yang menarik, kualitas kredit yang kuat, dan likuiditas yang memadai," jelasnya.
Penerbitan obligasi berpotensi melambat
Di tengah tingginya biaya dana, Domingus melihat ada potensi perlambatan penerbitan obligasi korporasi pada semester II 2026. Sejumlah perusahaan diperkirakan akan lebih selektif dalam mencari pendanaan.
Menurutnya, sebagian emiten berpotensi menunda ekspansi, menunggu kondisi pasar yang lebih kondusif, melakukan refinancing dengan tenor lebih pendek, hingga memaksimalkan fasilitas kredit perbankan dibanding menerbitkan surat utang baru.
Baca Juga: BI Perketat Aturan Valas, Batas Pembelian Tanpa Underlying Turun Jadi US$ 10.000
Meski begitu, ia tidak memperkirakan perlambatan penerbitan akan terjadi secara drastis mengingat kebutuhan refinancing masih cukup besar, terutama dari sektor keuangan, multifinance, telekomunikasi, dan utilitas.
Ke depan, Domingus menyebut sejumlah faktor akan memengaruhi arah kupon obligasi korporasi, antara lain kebijakan suku bunga Bank Indonesia, pergerakan yield US Treasury, stabilitas nilai tukar rupiah, harga minyak, kondisi fiskal pemerintah, hingga aliran dana asing ke pasar obligasi domestik.
"Jika tekanan global mereda dan rupiah stabil, maka yield dapat mulai menurun. Sebaliknya, apabila ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi berlanjut, kupon penerbitan baru berpotensi tetap tinggi hingga akhir tahun," katanya.
SBN tetap jadi pilihan utama
Untuk strategi investasi, Domingus menyarankan investor memanfaatkan fase suku bunga tinggi saat ini untuk melakukan yield locking pada instrumen berkualitas. Ia merekomendasikan pendekatan barbell, yakni mengombinasikan SBN sebagai portofolio inti dengan obligasi korporasi berkualitas tinggi sebagai pelengkap.
Menurutnya, SBN masih menarik karena memiliki risiko kredit yang sangat rendah, menawarkan yield yang kompetitif, serta berpotensi memberikan capital gain apabila siklus suku bunga mulai berbalik turun pada 2027.
Sementara untuk obligasi korporasi, investor disarankan fokus pada emiten dengan peringkat minimal AA, berasal dari sektor defensif, memiliki arus kas stabil, serta struktur utang yang sehat.
Ia pun menyarankan investor konservatif sebaiknya overweight pada SBN. Adapun investor moderat dapat mengkombinasikan SBN dengan obligasi korporasi investment grade, sementara investor agresif dapat meningkatkan eksposur pada obligasi korporasi berkualitas dengan seleksi kredit yang ketat.
Lebih lanjut, Domingus memandang prospek pasar obligasi pada semester II 2026 masih cukup konstruktif meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi.
Ia memperkirakan semester II 2026 akan menjadi periode carry trade dan income investing, di mana kupon akan menjadi sumber return utama bagi investor.
Untuk investor jangka menengah hingga panjang, kondisi yield yang tinggi saat ini justru membuka peluang akumulasi bertahap, terutama pada SBN tenor menengah 5–10 tahun serta obligasi korporasi investment grade dengan tenor tiga sampai lima tahun.
"Secara keseluruhan, kami tetap overweight fixed income untuk semester II 2026. Meskipun volatilitas jangka pendek masih tinggi akibat faktor global, level yield saat ini sudah cukup menarik untuk membangun posisi strategis sebelum siklus penurunan suku bunga berikutnya mulai terbentuk," tutupnya.
Baca Juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Prospek Logam Mulia Masih Menarik Investor
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













