Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Yudho Winarto
JAKARTA. Tanpa ada perayaan khusus, keran perdagangan bebas melalui pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah dibuka. Secara logika, ini bisa menjadi katalis positif bagi PT Mayora Indah Tbk (MYOR).
Kiswoyo Adi Joe, analis Saran Investa Mandiri menjelaskan kepada KONTAN, ketika sebagian pihak menilai negatif MEA, tapi MEA justru menjadi berkah bagi MYOR.
MYOR bisa lebih bebas mengekspor produknya tanpa terbebani pajak yang besar. Produk MYOR seperti Kopiko dan Energen jugq sudah dikenal luas baik di pasar domestik maupun pasar ekspor. Bahkan, produk perseroan sudah bisa disandingkan dengan produk Indofood.
"Apalagi, MEA itu isinya semua negara ASEAN yang kultur dan standarisasi produk konsumernya relatif sama. Jadi, produk MYOR bakal lebih mudah diterima pasar ekspor khususnya kawasan Asia," jelas Kiswoyo.
Hanya saja, efek positif dari MEA tidak bisa dirasakan dalam waktu dekat. Karena semua yang baru membutuhkan adaptasi. Kiswoyo bilang, efek signifikan MEA terhadap performa MYOR baru bisa terlihat signifikan pada 2017.
Dia menambahkan, porsi ekspor terhadap penjualan konsolidasi MYOR hingga akhir 2015 juga tidak akan bergerak jauh dari posisi terakhir pada September 2015. Soalnya, menurut Kiswoyo, produk MYOR hampir mirip kondisinya seperti di Indonesia, sudah cukup dikenal sehingga sudah jenuh, sulit untuk berkembang lebih ekspansif lagi. Kondisi yang sama juga tidak akan berbeda jauh pada 2016.
Senada dengan Kiswoyo, Adeline Solaiman, analis Buana Capital memprediksi kontribusi ekspor tidak bergerak banyak. Hingga akhir 2015, kontribusinya diperkirakan berada pada level 50%.
Dengan adanya MEA, kontribusi tersebut bisa terus bertambah. Tapi, satu hal yang sudah pasti, dengan kontribusi ekspor sebesar itu, MYOR sudah memiliki natural hedging. "Kerugian foreign exchange bisa sangat dibatasi," ujar Adeline.
Sehingga, bukan hanya top line yang naik, tapi performa bottom line MYOR bisa menjadi lebih baik apalagi jika ditambah dengan sentimen tren harga komoditas yang rendah. Hingga September 2015 saja laba bersih MYOR tercatat Rp 892 miliar, naik 251,5% yoy.
Hingga akhir 2015, Adeline memprediksi laba bersih MYOR mencapai Rp 1,02 triliun. Untuk 2016, angkanya diprediksi mencapai Rp 1,17 triliun. Lalu, sisi pendapatannya diprediksi Rp 15,73 triliun untuk 2015 dan Rp 18 triliun untuk 2015.
Atas dasar hal ini, Adeline mempertahankan rekomendasi buy MYOR, tapi target harganya dirubah jadi Rp 31.500 dari sebelumnya Rp 30.200 per saham.
Kiswoyo juga kompak merekomendasikan buy MYOR. Adapun target harga dari Kiswoyo sebesar Rp 35.000.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













