kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45928,35   -6,99   -0.75%
  • EMAS1.321.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Bagaimana prospek saham-saham laggard 2020?


Rabu, 07 Oktober 2020 / 14:55 WIB
Bagaimana prospek saham-saham laggard 2020?
ILUSTRASI. Pialang saham mengamati pergerakan saham di Jakarta, Kamis (1/10). pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo.


Reporter: Benedicta Prima | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat telah melemah 20,64% sejak awal tahun 2020 hingga Selasa (6/10), yang ditutup pada level 4.999,22. 

Tiga saham utama yang menjadi pemberat pergerakan IHSG adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham BBRI melemah 27,5% ke level Rp 3.190, TLKM turun 33,2% ke level Rp 2.650, BBCA turun 14,7% ke level Rp 28.500. 

Adapun kapitalisasi pasar BBRI tercatat sebesar Rp 390 triliun, TLKM sebesar Rp 263 triliun dan BBCA sebesar Rp 696 triliun. 

Selain tiga besar saham pemberat tersebut, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) juga masuk dalam peringkat lima besar pemberat IHSG. Saham BMRI telah turun 28,3% sejak awal tahun ke level Rp 5.500 dan HMSP turun 30,2% ke level Rp 1.465. Kapitalisasi BMRI tercatat sebesar Rp 254 triliun dan HMSP sebesar 170 triliun. 

Baca Juga: Net sell asing Rp 1,9 triliun, IHSG terkoreksi 0,63% di sesi I Rabu (7/10)

Senior Vice President Research kanaka Hita Solvera Janson Nasrial menjelaskan kelima saham big caps tersebut mempunyai pengaruh bobot luar biasa kepada IHSG tetapi juga Morgan Stanley Index (MSCI Index) yang banyak digunakan sebagai referensi fund manager internasional besar seperti Blackrock dan Franklin Templeton. 

"Sehingga ketika investor asing menarik modalnya, yang terjadi pada saat Maret 2020 lalu ketika The Fed belum quantitative easing, yang akan dilakukan fund manager internasional tersebut akan mengurangi bobot portofolio yang berisi kelima saham tersebut," jelas Janson menjelaskan penyebab kelima saham tersebut mengalami penurunan, Rabu (7/10). 

Faktor lainnya adalah penurunan kinerja keuangan selama semester I-2020, namun pergerakan harga saat ini diprediksi sudah sesuai dengan hasil l

Janson memprediksi pasca disahkannya Omnibus Law Cipta Kerja, kelima saham tersebut akan kembali naik. 

"Dan dampak positif omnibus law belum masuk faktor diskon yang artinya masih banyak ruang gerak untuk gain signifikan di akhir 2020," jelasnya. 

Janson masih merekomendasikan buy on weakness masing-masing saham BBCA di level Rp 28.000, TLKM di level Rp 2.650, BBRI di level Rp 3.000, BMRI di level Rp 5.200 dan HMSP di level Rp 1.450. Sedangkan target harga untuk BBCA Rp 34.000, TLKM Rp 3.300, BBRI Rp 3.800, BMRI Rp 6.400 dan HMSP Rp 1.900.

Selanjutnya: IHSG terkoreksi 0,20% di awal perdagangan Rabu (7/10)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×