kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.633.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 18.012   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.108   66,24   1,10%
  • KOMPAS100 801   11,17   1,41%
  • LQ45 609   8,67   1,45%
  • ISSI 211   1,35   0,64%
  • IDX30 343   4,64   1,37%
  • IDXHIDIV20 429   6,16   1,46%
  • IDX80 91   1,30   1,44%
  • IDXV30 117   1,58   1,37%
  • IDXQ30 111   1,61   1,48%

Austindo Nusantara (ANJT) Realisasikan 73,5% Capex 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya


Kamis, 16 Juli 2026 / 19:25 WIB
Austindo Nusantara (ANJT) Realisasikan 73,5% Capex 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Per kuartal I 2026, ANJT sudah merealisasikan capex sebanyak Rp 242,78 miliar yang setara dengan 73,5% dari anggaran di tahun ini. ?(Dok/ANJT)


Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) dinilai masih prospektif di sisa tahun 2026.

ANJT menganggarkan rencana belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 330,44 miliar di tahun 2026. Dalam dokumen di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), mayoritas capex perseroan digunakan untuk tanaman immature.

Rinciannya, sebesar Rp 149,15 miliar untuk perawatan tanaman immature, Rp 103,16 miliar untuk infrastruktur, Rp 61,77 miliar untuk bangunan, Rp 13,84 miliar untuk kendaraan, serta Rp 2,5 miliar untuk mesin dan peralatan.

Per kuartal I 2026, ANJT sudah merealisasikan capex sebanyak Rp 242,78 miliar yang setara dengan 73,5% dari anggaran di tahun ini. 

“Sisanya sebesar Rp 87,66 miliar alias 26,5% dari anggaran,” ungkap dokumen tersebut dikutip Kamis (16/7/2026).

Baca Juga: Tenor Pendek Jadi Buruan, Target Awal ORI030 Naik Menjadi Rp 25 Triliun

Pada tiga bulan pertama, ANJT mengantongi pendapatan Rp 1,15 triliun. Ini naik tipis dari Rp 1 triliun per kuartal I 2025.

ANJ mencatat penurunan beban umum dan administrasi dari Rp 4,99 miliar per kuartal I 2025 menjadi Rp 8,51 miliar di kuartal I 2026.

Selain itu, ANJT mencatatkan Rp 6,66 miliar pada pos laba atas pelepasan investasi penyertaan saham. Sebelumnya, pos ini kosong.

Alhasil, laba bersih melesat 179,49% menjadi Rp 232,53 miliar per kuartal I 2026, dari sebelumnya Rp 83,2 miliar pada periode sama tahun lalu.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo melihat, lonjakan laba bersih ANJT pada kuartal lalu  dibandingkan pertumbuhan pendapatan menunjukkan adanya perbaikan profitabilitas. Artinya, kondisi itu bukan semata-mata didorong oleh peningkatan penjualan. 

“Hal ini didukung oleh efisiensi beban operasional, penurunan beban keuangan, serta pengakuan laba atas pelepasan investasi sebesar Rp6,66 miliar,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (16/7/2026).

Meskipun begitu, ANJT juga masih harus memperbaiki komposisi free float saham. Melansir RTI, First Resources Limited menggenggam 95,91% saham ANJT dan sisanya 4,08% dipegang masyarakat.

Dalam keterbukaan informasi BEI yang terpisah, manajemen ANJT mengungkapkan bahwa pelaksanaan Mandatory Tender Offer (MTO) oleh First Resources Limited menyebabkan kepemilikan saham publik perseroan berada di bawah batas minimum free float sebagaimana diatur oleh Bursa Efek Indonesia. 

Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham MAPA, ITMG, dan PGEO untuk Jumat (17/7)

ANJT pun mengaku telah mengikuti sosialisasi serta mempelajari secara mendalam ketentuan yang berlaku dan saat ini masih melakukan kajian terhadap berbagai alternatif yang memungkinkan. Perseroan juga terus melakukan koordinasi dengan pemegang saham pengendali maupun otoritas terkait.

”Apabila di kemudian hari telah terdapat keputusan atau rencana yang bersifat material mengenai pemenuhan ketentuan free float, perseroan akan menyampaikannya kepada publik sesuai dengan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku,” ungkapnya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, konsekuensi dari hal tersebut adalah likuiditas saham menjadi relatif terbatas, spread harga cenderung lebih lebar, dan volatilitas harga lebih tinggi karena transaksi dalam jumlah kecil pun dapat menggerakkan harga secara signifikan.

Selain itu, free float yang rendah juga berpotensi membatasi minat investor institusi, khususnya investor asing dan pengelola dana besar, karena keterbatasan likuiditas serta potensi tidak memenuhi persyaratan sejumlah indeks. 

“Dari sisi valuasi, kondisi ini dapat menyebabkan harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental perusahaan alias price discovery kurang optimal,” ungkapnya.

Meskipun demikian, dari sisi operasional perusahaan, free float yang rendah tidak secara langsung mempengaruhi kinerja bisnis. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pengendali menjalankan strategi operasional, meningkatkan produktivitas, serta memenuhi ketentuan free float dalam batas waktu yang ditetapkan regulator. 

Baca Juga: Pembaruan Saham Terkonsentrasi Tinggi Perbaiki Kepercayaan Investor, Ini Kata Analis

“Setelah akuisisi oleh First Resources, isu pemenuhan free float memang menjadi salah satu perhatian pasar,” tuturnya.

Menurut Nafan, kebijakan ekspor CPO satu pintu oleh Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) berpotensi membatasi fleksibilitas ekspor dan menekan harga jual domestik. Hal itu bisa membuat margin produsen dapat sedikit tergerus. 

“Namun, selama implementasinya masih proporsional dan diimbangi harga CPO global yang tetap tinggi, dampaknya terhadap ANJT diperkirakan masih dapat dikelola,” tuturnya.

Dibandingkan emiten sawit lain, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), maupun First Resources di Singapura, skala usaha ANJT memang lebih kecil. 

“Hal ini membuat sensitivitas kinerja ANJT terhadap perubahan harga CPO relatif lebih tinggi,” ungkapnya. Nafan pun belum memberikan rekomendasi saham untuk ANJT lantaran sahamnya belum likuid.

Azis menambahkan, prospek kinerja ANJT pada semester II 2026 masih cukup positif didukung potensi peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) secara musiman. Terutama, dari kebun Belitung yang telah pulih pasca-El Nino serta perbaikan produktivitas melalui program peningkatan pemupukan dan efisiensi operasional.

Selain itu, pemulihan produksi di kebun Sumatra Utara II setelah penanganan penyakit tanaman juga berpotensi menjadi katalis tambahan. 

“Namun, investor tetap perlu mencermati risiko fluktuasi harga CPO global, kondisi cuaca, serta perubahan kebijakan ekspor dan pungutan sawit,” ungkapnya.

Azis melihat, saham ANJT saat ini memiliki pergerakan saham yang sangat fluktuatif. Rekomendasi trading buy pun disematkan untuk emiten ini dengan target harga Rp 1.590 - Rp 1.600 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×