Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (ASII) menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 36 triliun untuk tahun 2026.
Direktur ASII Hsu Hai Yeh mengatakan, nilai tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 10% dibandingkan realisasi capex tahun 2025 yang sebesar Rp 32 triliun. Pada tahun lalu, porsi terbesar belanja modal dan investasi perseroan banyak dialokasikan ke lini bisnis alat berat dan pertambangan.
Untuk tahun ini, Hsu menjelaskan mayoritas capex akan difokuskan pada kebutuhan pemeliharaan atau maintenance, serta investasi di sejumlah sektor strategis dengan tetap mempertimbangkan kondisi operasional, dinamika ekonomi, dan peluang usaha.
"Pada tahun 2026, kami berencana untuk meningkatkan alokasi investasi sekitar 10% menjadi sekitar Rp 36 triliun. Alokasi modal yang lebih rinci termasuk fokus investasi akan disampaikan setelah proses strategic review selesai" kata Hsu dalam agenda konferensi pers ASII di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Kiwoom: Tekanan Bukan Sekadar Faktor Global
Sebagai informasi, ASII melaporkan kinerja yang lesu sepanjang tahun 2025, baik dari segi laba bersih maupun pendapatan.
Melansir keterbukaan informasi pada Jumat (27/2/2026), ASII meraup laba bersih sebesar Rp 32,76 triliun di tahun 2025, menurun 3,33% dari periode tahun 2024 senilai Rp 33,9 triliun.
Dengan begitu, jumlah laba per saham ASII tercatat turun menjadi Rp 810 dari sebelumnya Rp 837 per saham.
Dari segi top line, Astra membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 323,39 triliun pada 2025. Angka ini turun tipis 1,54% dibandingkan pendapatan tahun 2024 yang mencapai Rp 328,48 triliun.
Secara rinci, segmen otomotif dan mobilitas tercatat mencapai Rp 125,65 triliun, jasa keuangan Rp 33,44 triliun, alat berat pertambangan, konstruksi dan energi Rp 131,3 triliun, agribisnis Rp 28,65 triliun, infrastruktur Rp 3,16 triliun, teknologi informasi Rp 2,99 triliun, properti Rp 1,13 triliun.
Total pendapatan dari tujuh segmen tersebut dikurangi jumlah eliminasi Rp 2,95 triliun menghasilkan pendapatan konsolidasian senilai Rp 323,39 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












