kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45931,36   3,72   0.40%
  • EMAS1.320.000 -0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Antisipasi Rotasi di Semester II, Cek Prospek Saham Leader dan Laggard Berikut Ini


Minggu, 09 Juli 2023 / 16:58 WIB
Antisipasi Rotasi di Semester II, Cek Prospek Saham Leader dan Laggard Berikut Ini
ILUSTRASI. Memasuki semester kedua 2023, saham penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pergeseran. Sejumlah saham yang semula bergerak lambat dan menjadi pemberat indeks (laggard) tampak mulai melejit.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki semester kedua 2023, saham penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pergeseran. Sejumlah saham yang semula bergerak lambat dan menjadi pemberat indeks (laggard) tampak mulai melejit.

Sepanjang semester pertama 2023, saham-saham big caps dari sektor energi mendominasi 10 besar saham laggard. Emiten batubara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mengisi rangking teratas.

Saham batubara lainnya seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga mengisi daftar laggard. Saham pemberat indeks turut diisi oleh sektor barang baku seperti emiten tambang mineral, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Berubah arah, saham-saham tersebut kompak menguat dan berbalik menjadi pendorong indeks (leader) pada periode pekan pertama bulan Juli 2023. Rotasi saham-saham movers tersebut akan ikut menentukan arah IHSG di sisa tahun ini.

Baca Juga: BBCA dan SMGR Terbesar, Ini Saham yang Banyak Dilego Asing Selama Sepekan

Kepala Riset FAC Sekuritas Indonesia Wisnu Prambudi Wibowo mengamati, saham laggard yang masih dominan diisi oleh sektor energi menandakan ada rotasi sektor. Saham-saham batubara yang meroket pada tahun lalu, berbalik menukik pada semester pertama tahun ini.

Merosotnya harga komoditas batubara menjadi katalis yang mendorong rotasi tersebut. Setelah ambles, ada upaya penguatan memasuki semester kedua. Dalam jangka pendek, Wisnu melihat saham-saham batubara punya ruang yang potensial untuk melanjutkan penguatan.

"Saya rasa jika di akhir Juni hingga awal Juli saham-saham batubara mulai rebound itu merupakan hal wajar, karena sebelumnya harga saham terkoreksi signifikan," kata Wisnu kepada Kontan.co.id, Minggu (9/7).

Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto punya catatan tersendiri untuk pergerakan saham-saham berbasis komoditas. Dengan harga yang sudah menukik tajam, investor yang mengincar capital gain sudah melakukan aksi profit taking sejak lama.

Sedangkan investor yang membidik momentum dividen juga sudah selesai pada musim dividen bulan lalu. Dus, Pandhu memandang belum ada katalis kuat lain bagi saham-saham berbasis komoditas.

"Penguatan saat ini lebih rentan, karena secara trend besarnya masih cenderung negatif. Oleh karena itu, setiap rebound perlu dipantau lebih ketat, karena dikhawatirkan trend bearishnya masih dapat berlanjut," terang Pandhu.

Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih turut menyoroti dua sektor laggard yakni energi dan barang baku. Sepanjang pekan pertama bulan Juli, kedua sektor saham ini masing-masing menguat 4,58% dan 3,32%.

Ratih mengamati katalis dari dalam negeri, program hilirisasi yang terus dikembangkan akan meningkatkan Foreign Direct Investment (FDI) di sektor metal mining. Hanya saja, jika dilihat secara global, belum ada katalis signifikan yang menjadi asa pergerakan sektor barang baku maupun sektor energi.

"Terlebih di tengah masih kuatnya potensi kebijakan moneter hawkish dari beberapa negara maju hingga di akhir tahun 2023," sebut Ratih.

Dampak Bagi IHSG

Analis Kanaka Hita Solvera, Raditya Krisna Pradana, melihat pergeseran di antara saham movers masih terbilang wajar. Namun, rotasi sektor di separuh kedua tahun ini masih belum jelas. Begitu juga rotasi pada saham-saham pendorong dan pemberat indeks.

Berbagai faktor tersebut membawa IHSG masih dalam tahap akumulasi. "Kondisi IHSG saat ini masih belum jelas akan digerakkan oleh sektor apa ke depannya. Masih abu-abu," kata Raditya.

Pandhu menimpali, saham-saham movers dengan bobot yang besar akan menentukan arah IHSG. Namun sejauh ini Pandhu belum melihat ada perubahan signifikan pada kinerja saham-saham bluechip tersebut.

Apalagi, pelaku pasar masih menanti dan akan mencerna kualitas kinerja emiten dalam laporan keuangan semester pertama. "Untuk prospek semester kedua mungkin sebaiknya kita tunggu hasil laporan kuartal kedua akhir bulan nanti, perlu dilihat dulu sejauh mana kinerja para emiten," kata Pandhu.

Sehingga Pandhu memproyeksikan pergerakan IHSG akan cenderung sideways dalam rentang 6.500 - 7.100. Ada kemungkinan IHSG baru bisa bergerak menguat menguji level all time high di kisaran 7.377 pada akhir tahun 2023.

Sebagai pertimbangan investasi, Pandhu menjagokan saham di sektor perbankan dan consumer dengan outlook kinerja yang positif. Meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM).

Sedangkan Wisnu menyampaikan biasanya pergerakan IHSG akan lebih kondusif pada akhir kuartal ketiga. Dengan adanya pergeseran di saham-saham movers, Wisnu memprediksi pergerakan IHSG di sisa tahun ini dapat mencapai level 6.800 - 6.900.

Dari daftar saham-saham movers, Wisnu menyarankan untuk mencermati saham BYAN, ADRO, MDKA, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), dan PT Astra International Tbk (ASII).

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Sideways Cenderung Menguat, Cek Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
EVolution Seminar Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP)

[X]
×