Reporter: Ika Puspitasari | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pertambangan logam PT Vale Indonesia Tbk (INCO) masih berupaya untuk mengejar target produksi hingga akhir tahun ini. Emiten ini memasang target produksi sebanyak 65.000 ton nikel matte di tahun ini.
Bernardus Irmanto, Chief Financial Officer Vale Indonesia mengatakan, saat ini INCO masih tetap mengupayakan untuk bisa mencapai produksi sesuai rencana.
"Kami akan sampaikan seandainya ada kendala dalam mengejar target produksi selanjutnya," ujarnya pada Kontan beberapa waktu lalu.
Pada periode Januari-September 2022, realisasi produksi INCO masih lebih rendah 9% dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu. Pada periode Sembilan bulan pertama 2022, produksi nikel matte INCO tercatat sebesar 43.907 metrik ton, berbanding 48.373 metrik ton nikel dalam matte pada periode yang sama tahun 2021.
Baca Juga: Segera Rampungkan Akuisisi Sanofi, Simak Rekomendasi Saham Kalbe Farma (KLBF)
Manajemen INCO menegaskan, penurunan ini disebabkan oleh adanya pelaksanaan proyek pembangunan kembali tanur 4 pada paruh pertama 2022. Sayangnya, Bernard belum memberikan keterangan lebih lanjut seputar efek penurunan produksi terhadap kinerja keuangan INCO.
Nah, jika dilihat secara kuartalan, produksi INCO tercatat naik di periode kuartal ketiga 2022. Melansir laporan kuartalan di Bursa Efek Indonesia pada Senin (17/10), INCO berhasil memproduksi 17.513 metrik ton nikel dalam matte pada triwulan ketiga tahun 2022.
Volume produksi INCO di periode ini 39% lebih tinggi dibandingkan dengan volume produksi yang direalisasikan pada triwulan kedua 2022, dimana pada periode tersebut produksi INCO hanya sebesar 12.567 metrik ton.
Meningkatnya produksi pada kuartal ketiga ini sejalan dengan rampungnya pembangunan kembali tanur 4 pada Juni 2022. Di saat yang sama, INCO berhasil meningkatkan kapasitas tanur 4 pada kuartal kedua 2022. Guna mengejar target produksi, sambungnya, INCO akan memaksimalkan operasi produksinya.
"Di kuartal ke empat furnace 4 sudah bisa beroperasi penuh, dan kami mengharapkan operasi keseluruhan furnace bisa lebih stabil," terangnya.
Sampai September 2022, INCO juga telah menyerap belanja modal sebesar US$100 juta dari total anggaran belanja modal US$ 120 juta untuk tahun ini. "Mayoritas untuk furnace 4 rebuild, mine development, dan heavy equipment replacement," katanya.
Sebagai informasi, saat ini INCO juha tengah menggarap proyek smelter berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).
Analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan mengungkapkan, proyek smelter ini akan dimulai pada tahun depan dan diharapkan bisa rampung pada 2025 mendatang.
Baca Juga: Trafik Jalan Tol Pulih, Simak Rekomendasi Saham Jasa Marga (JSMR)
Hasan bilang, ada kemajuan positif pada proyek HPAL di Pomalaa. Dimana INCO telah menandatangani nota kesepakatan kerjasama untuk mengembangkan fasilitas pengolahan HPAL di Pomalaa dengan kapasitas hingga 120 ktpa dalam Mix Sulphide Precipitate (MSP). INCO bermitra dengan Huayou dan Ford untuk mengembangkan proyek ini.
Saat ini, perusahaan sedang berusaha menyelesaikan studi kelayakan untuk meningkatkan kapasitas baik fasilitas tambang maupun HPAL. Selain itu, INCO menargetkan mereka bisa mendapatkan kesepakatan definitif pada Oktober 2022. Dalam catatan Kontan, investasi untuk proyek ini sekitar US$ 2 miliar - US$ 2,5 miliar.
Selain itu, INCO juga tengah mengembangkan proyek smelter HPAL di Sorowako bersama Zhejiang Huayou Cobalt Company Limited (Huayou). Total kapasitas produksi ditargetkan 60 ktpa nikel dalam Mix Hydroxide Precipitate (MHP). Uji kelayakan proyek ini sudah dimulai sejak awal tahun ini.
"Kami yakin INCO akan mengungkapkan detail timeline proyek ini awal tahun depan," ujarnya dalam riset yang dikutip Kontan, Selasa (18/10).
Secara produksi, Hasan melihat INCO masih memiliki kesempatan untuk menggenjot produksi di sisa akhir tahun 2022. Ia bilang, puncak pertumbuhan produksi INCO akan terjadi selama kuartal 3-2022. Ia memberikan rekomendasi beli saham INCO dengan TP lebih tinggi yakni di Rp 7.600.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













