kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45832,75   2,05   0.25%
  • EMAS945.000 0,53%
  • RD.SAHAM -0.46%
  • RD.CAMPURAN -0.09%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Analis Philip Sekuritas rekomendasikan buy saham AALI dan LSIP, ini penjelasannya


Senin, 02 November 2020 / 07:29 WIB
Analis Philip Sekuritas rekomendasikan buy saham AALI dan LSIP, ini penjelasannya
ILUSTRASI. Pekerja menurunkan Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit dari dalam truk pengangkutan

Reporter: Nur Qolbi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah berencana meningkatkan tarif bea keluar dengan skema progresif terhadap minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dan produk turunannya mulai tahun depan. Skema progresif menyebabkan tarif pajak akan semakin meningkat apabila jumlah objek pajak semakin banyak dan nilai objek pajak mengalami kenaikan.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, tarif bea keluar secara progresif untuk CPO sekitar US$ 12,5 setiap kenaikan harga US$ 25. Sementara untuk produk turunan CPO dikenakan US$ 10 per kenaikan harga US$ 25.

Menurut dia, kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan program sawit seperti B30 dan peremajaan sawit rakyat.

Baca Juga: Mesin ekspor, CPO bakal dikenakan pajak progresif untuk tarif bea keluar tahun depan

Analis Philip Sekuritas Michael Filbery menilai, penerapan kebijakan ini akan meningkatkan proporsi beban pajak ekspor yang harus dibayar emiten-emiten sawit, terutama yang memiliki proporsi penjualan ekspor yang besar.

Tarif pungutan pajak ekspor progresif ini juga dapat menyebabkan daya saing pasar CPO Indonesia menjadi kurang kompetitif.

Di sisi lain, pendapatan pemerintah dari penyerapan pungutan ekpor CPO ini akan digunakan untuk keperluan pengembangan program biodiesel dan insentif terhadap produksi biodiesel. Dengan begitu, nantinya, penyerapan CPO untuk keperluan biodiesel berpotensi meningkat.

"Jadi, meskipun di satu sisi akan memperberat beban penjualan perusahaan-perusahaan produsen sawit, kebijakan ini juga menjadi pendongkrak penyerapan CPO di dalam negeri," kata Michael saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (1/11).

Kondisi ini memberikan peluang bagi emiten-emiten produsen sawit untuk memonetisasi peningkatan  permintaan CPO di pasad domestik.

Secara keseluruhan, kebijakan ini juga berefek positif terhadap saham-saham produsen CPO. Hingga akhir tahun, saham CPO diprediksi masih memilik prospek positif seiring dengan harga jual CPO yang diperkirakan masih bertahan di atas MYR 2.500 per ton.

Hal ini didukung adanya fenomena La Nina yang memangkas prospek produksi CPO pada kuartal IV-2020. Selain itu, iklim kering berkepanjangan di Amerika Serikat (AS) menyebabkan prospek produksi soybean (substitusi sawit) menurun sehingga harga soybean oil meningkat.

Baca Juga: Pemerintah berencana terapkan pajak progresif untuk tarif bea keluar CPO

Ia merekomendasikan buy saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan target harga Rp 14.700 per saham dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) Rp 1.410 per saham.

Meksipun begitu, harga CPO menghadapi risiko penurunan dari pelemahan harga minyak mentah akibat adanya lonjakan kasus Covid-19 di AS dan Eropa yang dapat menyebabkan permintaan minyak mentah menyusut. Sebagaimana diketahui, biodiesel merupakan subtitusi minyak mentah.

Dengan penurunan harga minyak mentah, maka harga biodiesel jadi kalah saing. Ini dapat menyebabkan permintaan biodiesel juga berpotensi turun sehingga berpengaruh pada harga jual CPO.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
MiniMBA on Problem Solving using world class consultants approach Sukses Memimpin: Kunci Kepemimpinan Asertif Batch 2

[X]
×