kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   13.000   0,94%
  • USD/IDR 16.140
  • IDX 7.328   27,17   0,37%
  • KOMPAS100 1.142   4,95   0,44%
  • LQ45 920   5,02   0,55%
  • ISSI 219   0,28   0,13%
  • IDX30 458   2,53   0,56%
  • IDXHIDIV20 549   3,16   0,58%
  • IDX80 129   0,76   0,60%
  • IDXV30 127   0,36   0,29%
  • IDXQ30 155   0,64   0,42%

Analis ini sebut investor perlu wait and see sebelum beli saham transportasi


Minggu, 08 Juli 2018 / 10:24 WIB
Analis ini sebut investor perlu wait and see sebelum beli saham transportasi
ILUSTRASI. Deretan Armada Taksi Blue Bird di Stasiun Gambir


Reporter: Krisantus de Rosari Binsasi | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Seperti diketahui, terhitung sejak hari Minggu 1 Juli 2018. PT Pertamina (Persero) langsung menaikkan harga harga bahan bakar minyak nonsubsidi.

Revisi harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan per liternya, BBM nonsubsidi yang dimaksud adalah Pertamax naik Rp. 800, dan Dexlite naik Rp. 1000 Perliternya.

Sedangkan untuk jenis BBM Pertalite, Premium, dan Solar tidak mengalami perubahan, tetap dengan harga yang sama.

Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada pertengahan tahun ini diperkirakan akan berimbas terhadap kinerja emiten sektor transportasi seperti PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) dan PT Blue Bird Tbk (BIRD).

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan, prospek emiten transportasi ASSA dan BIRD cukup dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah menaikan BBM.

Namun, ia bilang kenaikan BBM memang perlu dilakukan pemerintah sebagai respon atas kenaikan harga minyak dunia.

"Dengan kenaikan BBM otomatis akan terjadi penyesuaian tarif pada pelayanan transportasi umum. Jika hal ini tidak dilakukan maka akan meningkatkan beban bagi emiten-emiten transportasi seperti ASSA dan BIRD" katanya, Jumat (6/7).

Nafan juga turut menyingung bahwa dalam industri transportasi juga terjadi persaingan yang cukup ketat dengan kehadiran transportasi online seperti Grab-car, Go-car, Grab-bike maupun Go-jek. Di sisi lain, pemerintah juga menyediakan sarana transportasi umum yang cukup memadai seperti bus way maupun komuter line.

Maka, ia mengharapkan agar ASSA dan BIRD perlu meningkatkan strategi bisnis yang efektif agar tidak terkena efek negatif dari kenaikan BBM maupun persaingan di dalam industri transportasi.

Maka, ia berharap dua event besar yaitu Asian Games dan Pertemuan IMF World Bank di tahun ini semoga mampu memberikan katalis positif bagi emiten-emiten transportasi seperti ASSA maupun BIRD.

Namun, ia menyarankan kepada investor untuk menunggu sejenak sebelum mengakumulasi beli di saat ini, baik untuk jangka menengah hingga jangka panjang.

"Saya merasa para pelaku pasar perlu wait and see terlebih dahulu hingga pola sahamnya terbentuk secara terstruktur," tutupnya.

Sekadar informasi, saham ASSA pernah menyentuh level tertinggi sebesar Rp 298 per saham pada tanggal 25 April 2018. Pada akhir perdagangan pekan lalu, sahamnya turun menjadi Rp 260 per saham.

Sementara itu, saham BIRD sempat berada di level tertinggi sebesar Rp 3.650 per saham pada tanggal 8 Februari 2018. Namun, pada akhir perdagangan Jumat kemarin, harga sahamnya turun menjadi Rp 2.640 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×