Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) berencana mengalihkan sisa dana rights issue 2022 sebesar Rp 378,69 miliar menjadi modal kerja untuk proyek konstruksi yang sedang berjalan.
Langkah ini dinilai dapat membantu kelancaran operasional dan memperbaiki perputaran kas, meski dampaknya terhadap kondisi keuangan perusahaan secara keseluruhan diperkirakan masih terbatas.
Dalam keterbukaan informasi pada 7 Oktober 2026, ADHI mengusulkan perubahan penggunaan sisa dana Penawaran Umum Terbatas dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) II.
Dana yang semula dialokasikan untuk penyertaan modal pada entitas investasi akan dipakai untuk menyelesaikan proyek-proyek yang masih berjalan. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli material dan perlengkapan konstruksi, membayar tenaga kerja dan subkontraktor, memobilisasi peralatan, serta memenuhi kebutuhan lain sampai pekerjaan selesai dan bisa ditagihkan. Rencana ini baru berlaku setelah disetujui pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 13 November 2026.
Baca Juga: 328 Emiten Berjibaku Penuhi Ketentuan Minimal Free Float 15%
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menilai pengalihan dana ini dapat membantu proyek ADHI berjalan lancar tanpa terhambat masalah pendanaan.
Bila proses proyek lebih cepat, perusahaan bisa menagih pemberi kerja lebih awal. Meski begitu, pengerjaan yang lebih cepat belum tentu langsung menambah kas, sebab semuanya masih bergantung pada proses penagihan dan pembayaran dari pemberi kerja.
Menurutnya, dana Rp 378,69 miliar akan cukup membantu jika dialokasikan ke proyek yang hampir selesai dan segera bisa ditagihkan, sehingga uang yang sudah keluar lebih cepat kembali menjadi kas untuk mendukung proyek lain. Namun jumlah tersebut diperkirakan belum cukup untuk mengatasi seluruh tekanan keuangan ADHI, sehingga lebih tepat dilihat sebagai upaya menjaga operasional dan memperbaiki perputaran kas secara bertahap.
Senada dengan hal tersebut, Senior Market Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai rencana ini positif dan pragmatis untuk memperkuat likuiditas, terutama untuk membiayai proyek dan menyelesaikan pekerjaan yang menjadi syarat penagihan termin. Meski demikian, efektivitasnya bergantung pada kemampuan ADHI mengubah progres proyek menjadi tagihan dan penerimaan kas. Tanpa perbaikan proses penagihan dan pembayaran, pengalihan dana belum tentu membawa perubahan berarti bagi likuiditas.
Nafan juga menyoroti kinerja keuangan ADHI pada semester I-2026. Pendapatan usaha tercatat Rp 3,11 triliun, turun 18,4% secara tahunan, sementara kas dan setara kas pada akhir Juni 2026 menyusut menjadi Rp 813,1 miliar dari Rp 1,71 triliun pada akhir 2025. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan tambahan modal kerja bisa memberi ruang bagi ADHI untuk menyelesaikan proyek dan mempercepat penagihan. Namun dana ini lebih tepat disebut penyangga likuiditas, bukan solusi mendasar bagi masalah keuangan perseroan. Perbaikan yang berkelanjutan tetap memerlukan penagihan piutang yang efektif, pengendalian biaya, dan keselarasan antara penerimaan pembayaran proyek dengan kewajiban operasional.
ADHI masih menghadapi risiko selisih waktu antara pengeluaran untuk mengerjakan proyek dan penerimaan pembayaran dari pemberi kerja, karena perusahaan harus lebih dulu membiayai pekerjaan sebelum dibayar atas progres yang diselesaikan. Kevin menilai kebutuhan modal kerja yang besar, kewajiban utang, dan beban bunga masih menjadi tantangan, apalagi jika arus kas operasional belum membaik. Karena itu, perusahaan perlu mempercepat penagihan, menjaga pengeluaran, dan terus menyelesaikan kewajiban kepada kreditur untuk menekan tekanan likuiditas.
Sementara itu Nafan mencatat total liabilitas ADHI mencapai Rp 24,21 triliun pada akhir Juni 2026, dengan liabilitas jangka pendek sebesar Rp 17,02 triliun. Ia menilai keterlambatan pembayaran termin atau perubahan jadwal proyek dapat menaikkan kebutuhan modal kerja. Jika penerimaan kas tidak mencukupi, perusahaan berpotensi membutuhkan pendanaan tambahan yang akan menambah beban bunga. Untuk mengurangi risiko itu, ADHI perlu memperkuat pengelolaan piutang, mengendalikan biaya operasional, dan mempertimbangkan kebutuhan pendanaan serta kemampuan keuangannya saat mengambil proyek baru.
Prospek kinerja ADHI hingga akhir 2026 masih bergantung pada kelancaran penyelesaian proyek, realisasi penerimaan kas, dan pengelolaan beban keuangan. Kevin menilai kontrak baru bisa menjadi modal pertumbuhan, tetapi dampaknya tidak selalu langsung terlihat karena proyek butuh waktu untuk dikerjakan hingga bisa ditagihkan. Perkembangan restrukturisasi utang juga perlu dicermati karena bisa memengaruhi ruang gerak keuangan perseroan.
Nafan menyarankan investor memantau pendapatan, perolehan kontrak baru, margin laba kotor, arus kas bersih dari aktivitas operasi, posisi kas, perputaran piutang, serta utang berbunga dan beban bunga. Menurutnya, kemajuan proyek harus diikuti percepatan penagihan dan penerimaan pembayaran. Jika arus kas operasional membaik secara konsisten dan kebutuhan dana eksternal bisa ditekan, peluang ADHI untuk pulih akan makin kuat. Sebaliknya, bila pendapatan masih tertekan dan pembayaran proyek terlambat, ruang perbaikan hingga akhir tahun kemungkinan terbatas.
Dari sisi saham, Kevin menilai pengalihan dana ini berpotensi menjadi sentimen positif jika benar-benar membantu kelancaran proyek dan memperbaiki arus kas. Namun pengaruhnya terhadap harga saham belum tentu langsung terlihat karena investor juga akan melihat kinerja keuangan, penyelesaian utang, dan kondisi pasar. Ia memilih wait and see karena saham ADHI masih dalam status suspensi.
Nafan juga merekomendasikan wait and see. Menurutnya, pengalihan dana berpotensi mendukung likuiditas, tetapi pemulihan fundamental ADHI tetap bergantung pada kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas operasional yang sehat, menjaga profitabilitas, dan memenuhi kewajiban keuangan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Ekspansi EV dan Inovasi Baru, Begini Strategi Ecocare Indo Pasifik (HYGN)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














