Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ada belasan saham yang masuk dalam daftar saham konsentrasi tinggi alias high shareholding concentration (HSC) usai PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memperluas cakupan metodologi peninjauan.
Seperti diketahui, BEI memutuskan untuk memperluas metodologi HSC menggunakan price impact ratio untuk saham dengan market cap di atas Rp 5 triliun, dibanding sebelumnya hanya saham market cap di atas Rp 10 triliun.
Kemudian pada 13 Oktober 2026, BEI mengumumkan ada 19 saham yang masuk dalam daftar HSC, yakni TBIG, MTEL, ADES, SSMS, PSAB, CITA, DMND, TMAS, CLAY, MAYA, DUTI EPMT, INPP, BALI, SHIP, BBMD, SAME, BMAS dan SMMT.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat pada Rabu (14/10), Simak Saham Pilihan Analis
Di saat yang bersamaan, BEI melaporkan ada dua saham yang keluar dalam kategori IHSG. Mereka ialah, PT MD Entertainment Tbk (FILM) dan PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV).
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman menyebut penggunaan price impact untuk market cap di atas Rp 5 triliun merupakan hal yang positif untuk jangka menengah dan panjang.
“Secara jangka pendek pasti akan ada tekanan jual dari investor meskipun ini sifatnya sementara,” katanya kepada Kontan, Selasa (13/10).
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menimpali perluasan cakupan HSC dari market cap di atas Rp 10 triliun menjadi di atas Rp 5 triliun merupakan salah satu pemicu penting tekanan di pasar saham.
Sebagai gambaran, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah di sepanjang perdagangan Selasa (13/10). IHSG pun ditutup melemah 0,17% ke level 5.925,98.
Menurut Liza, wajar kalau pasar langsung menghitung saham mana lagi yang berpotensi terdampak karena pengelola indeks global seperti MSCI sudah menyatakan akan menghapus saham yang terkena status HSC.
“Lalu sebagian pengelola dana besar atau fund manager memilih mengurangi posisi lebih awal daripada menunggu investor atau pelaku pasar lain keluar dari pintu yang sama,” tuturnya.
Baca Juga: Tiga Emiten Bank Masuk Daftar Saham HSC, Cek Daftarnya!
Namun dari 19 itu ada dua saham yang berada di indeks global. Yakni, MTEL masuk ke dalam MSCI Global Small Cap Index dan FTSE Equity Global Index. Lalu ada TBIG yang masuk dalam FTSE Indonesia Index.
“Masuknya saham ke daftar HSC sekarang punya konsekuensi indeks yang nyata sehingga risiko bagi MTEL atau TBIG perlu diperhatikan serius,” ucap Liza.
Liza bilang besaran potensi penjualan tetap bergantung pada apakah saham tersebut merupakan konstituen indeks terkait, bobotnya, dan jadwal implementasi MSCI.
Namun tekanan mulai terlihat pada saham TBIG dan MTEL. Pada akhir perdagangan Selasa (13/10), TBIG ditutup melemah 0,37% ke level Rp 1.360 per, sementara MTEL turun 0,87% ke posisi Rp 456.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menimpali jika penyedia indeks global tersebut mengeluarkannya pada review berikutnya, dapat terjadi passive outflow dan tekanan harga menjelang rebalancing.
Budi bilang hal tersebut berkaca dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang didepak MSCI pada April 2026. Sehari setelahnya di 21 April 2026, DSSA anjlok 13,15% dan BREN melemah 7,20%.
“Dalam jangka pendek ini tentu menambah outflow secara marginal, terutama jika semakin banyak saham besar terkena HSC. Namun dampak sistemiknya tergantung bobot saham tersebut dalam indeks,” katanya.
Namun dalam jangka panjang, kata Budi, publikasi HSC mungkin saja positif. Sebab transparansi yang lebih baik diperlukan agar kepercayaan investor asing dapat pulih.
Baca Juga: Prospek AUD dan NZD Dibayangi Efek dari Ketergantungan Ekspor dengan China
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













