: WIB    --   
indikator  I  

Simak tips memilih saham backdoor listing

Simak tips memilih saham backdoor listing

KONTAN.CO.ID - Fenomena backdoor listing yang ramai diberitakan membuka mata tentang cara masuk ke pasar modal lainnya. Ini merupakan jalan lain di luar penawaran umum perdana saham atau lebih dikenal dengan initial public offering (IPO) di pasar modal.

Beberapa perusahaan menyatakan minat dan rencana untuk melakukan backdoor listing. Diantaranya seperti perusahaan properti Anugerah Kasih Investama.

Perusahaan ini sedang bernegosiasi dengan tiga emiten di bursa. Kemudian, ada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) melalui anak usahanya, dan PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) untuk masuk ke Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sederet aksi backdoor listing terus menghiasai wajah bursa. Misalnya pada 2015 ada Fundamental Resources Pte Ltd yang masuk ke PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP). Waktu itu SIAP bergerak dibidang percetakan plastik lembaran kemudian mengubah bisnis utama menjadi bisnis batubara.

Pada 2016 Golden Harvest Cocoa Ltd (GHCL) juga mendarat di Bursa Efek Indonesia. GHCL kala itu masuk lewat PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK), emiten yang bergerak di bidang pengembangan bioteknologi pertanian, lewat skema rights issue. BTEK kala itu menerbitkan rights issue mencapai Rp 5,51 triliun.

Sejumlah aksi backdoor listing itu memberi pengaruh terhadap perusahaan. Misalnya, selain kapitalisasi jelas bertambah, perusahaan itu juga kebagian utang baru yang kemudian terkonsolidasi kepada perusahaan.

"Juga menambah ekspansi atau pelengkap usaha," terang Bertoni Rio, Senior Analyst Research Division Anugrah Securindo Indah.

Aksi itu bisa menjadi langkah yang diambil untuk mengakuisisi perusahaan yang sudah jenuh terhadap core bisnis. Di sisi lain, tidak perlu repot-repot lagi dalam melakukan pengembangan bisnis dan lebih cepat masuk ke BEI. Namun, valuasi perusahaan pun bisa kemahalan.

Irwan Ariston Napitupulu pengamat sekaligus investor pasar modal menyatakan punya tiga cara untuk mempertimbangkan saham dengan riwayat backdoor listing.

Pertama, tingkat harga rights issue yang dipatok, kedua, fundamental atau prospek bisnis yang dijalankan, dan ketiga, siapa pemilik baru dari perusahaan itu. "Apakah nantinya, owner bisa me-maintance harga atau tidak," kata Irwan kepada KONTAN, Kamis (31/8).

Oleh karena itu, pihaknya tertarik bila owner baru suatu perusahaan mampu mengerek harga saham perusahaan itu. Caranya dengan berkaca dari perusahaan lain yang telah dimiliki sang owner. Misalnya saja PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO) yang mengubah bisnis retailnya menjadi bisnis properti.

"Pemiliknya mahir dan kawakan di pasar modal, maka sahamnya akan dijaga. Namun saham yang tidak dimaintenance dengan baik, mungkin bisa jadi gorengan," lanjutnya.

Tapi mau dikata apa, backdoor listing tetap legal dilakukan. Pemegang saham dominan pun berhak memutuskan kebijakan terhadap perusahaan ke depan.

Otomatis, cara ini menjadi menarik untuk masuk ke pasar modal. Apalagi nilai rights issue yang ditawarkan cenderung murah.

BEI juga terus menggenjot jumlah kapitalisasi perusahaan di pasar modal. Targetnya, tahun ini bisa tembus Rp 6.500 triliun. Selain lewat IPO, cara backdoor listing bisa menambah bobot itu.

Bedanya, syarat backdoor listing tak serumit perusahaan yang ingin melakukan IPO. "Jadi istilahnya jalan pintas saja untuk regulasi yang rumit. Meskipun, secara hukum ini legal," kata Teguh Hidayat, Pengamat Pasar Modal kepada KONTAN, Kamis (31/8).

Usai melakukan backdoor listing, perusahaan akan berekspansi. Terutama perusahaan dengan model bisnis baru. Meski demikian, perusahaan yang melakukan backdoor listing tak sepenuhnya menjamin akan cemerlang dimasa mendatang. "Menurut saya, perusahaan yang masuk lewat jalan ini jadi agak gorengan," lanjutnya.

Teguh berkaca pada sejumlah emiten lain yang sebelumnya juga sempat melakukan backdoor listing. Misalnya saja seperti PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) yang dibeli oleh Grup Rajawali milik Peter Sondakh, PT Hanson International Tbk (MYRX) dan PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO) yang dibeli Benny Tjokrosaputro.

Tak selamanya imej negatif melekat pada perusahaan yang melakukan backdoor listing. Berkaca dari PT Central Omega Resources Tbk (DKFT), Teguh menilai aksi tersebut cenderung berhasil.

Central Omega sebelumnya bernama PT Duta Kirana Finance Tbk. Yakni perusahaan yang bergerak dibidang penyaluran pembiayaan motor China merek Sanex. Rendahnya animo masyarakat terhadap produk ini, membuat Duta Kirana lesu. "Kini menjadi perusahaan nikel yang cukup berkembang," kata Teguh.

Yang jadi catatan Teguh, perusahaan yang masuk pasar bursa perlu diperhatikan latar belakang perusahaan itu. Apakah memiliki penerapan Good Corporate Governance (GCG) yang baik sehingga layak untuk dikoleksi?

Atau bisa dengan mencermati kinerja keuangan perusahaan itu. Perusahaan yang masih merugi, tentu sulit rasanya bisa masuk lewat skema IPO. Tak ayal, mereka memilih jalan pintas melalui skema backdoor listing.

"Kalau sejak awal, kurang bagus, kecil kemungkinannya lolos IPO. Maka, perusahaan sekuritas mana yang mau jadi penjamin emisinya? Kalau di suruh memilih, saya selalu memilih saham yang lewat IPO saja," ungkapnya Teguh.

Yang terbaru ada, PT Rimau Multi Putra Pratama Tbk (CMPP) yang menegaskan pihaknya akan fokus pada usaha penerbangan komersil berjadwal. Emiten ini akan melakukan divestasi sebagai bentuk reorganisasi dan pengoptimalan kondisi keuangan perusahaan.

Perusahaan yang akan di divestasi yakni PT Multi Mekar Lestari (MLL) dan PT Rimau Shipping (RS). Kedua perusahaan ini, menjalankan usaha bisnis penjualan batubara dan jasa pelayaran.

CMPP juga akan melakukan rights issue terkait dengan backdoor listing PT Indonesia Airasia (IAA). Sedikit mengulik laporan keuangan IAA, posisi keuangan IAA hingga Juni 2017 saat ini memiliki jumlah aset sebesar Rp 2,92 triliun.

Dengan jumlah liabilitas sebesar Rp 3,04 triliun. Artinya, jumlah ekuitas IAA masih minus Rp 117,22 miliar.

Sementara, kinerja laba rugi IAA yakni pendapatan usaha pada semester 1-2017 yakni Rp 1,92 triliun. Laba usaha yang tercatat yakni Rp 212,12 miliar. Sehingga IAA masih mencatat rugi bersih semester 1-2017 sebesar Rp 557,88 miliar.

Menarikkah bisnis penerbangan ini nantinya? Maka biarkan investor yang akan menilai. Berkaca dari kinerja emiten sejenis di pasar modal, ada PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Kinerja emiten plat merah saat ini pun masih kembang kempis.

Pada semester 1-2017, meski ada pertumbuhan penjualan sebesar 6,97% (YoY), tetapi perusahaan ini masih mencatatkan rugi bersih dengan pertumbuhan minus 343,33% (YoY). Angka ini tak jauh berbeda, dengan rugi bersih pada semester 1-2016 yang tercatat sebesar 329,36% (YoY). Kerugiannya masih cukup fantastis.

Kinerja saham GIAA secara year to date (YTD) juga masih minus 3,55%, sedangkan dalam lima tahun terakhir saham GIAA menyusut 51,34%. Harga saham GIAA kini berada dikisaran 326, padahal harga IPO GIAA pada 11 Februari 2011 yakni Rp 750. Apakah bisnis penerbangan masih prospektif?


Reporter Dede Suprayitno
Editor Dessy Rosalina

EMITEN

Feedback   ↑ x
Close [X]