: WIB    —   
indikator  I  

Rebalancing MSCI, tekanan sesaat saham blue chip

Rebalancing MSCI, tekanan sesaat saham blue chip

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ada yang menarik pada perdagangan hari terakhir pada pekan lalu. Sejumlah saham blue chip turun cukup dalam.

Setidaknya, ada empat saham yang mengalami aksi jual pada perdagangan Kamis (30/11), yakni saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

INDF turun 3% ke level Rp 7.325 per saham. Saham ICBP juga tergerus 4% ke level Rp 8.825 per saham. Sementara, saham BBCA turun 4% ke level Rp 20.350 per saham. Sedangkan saham GMSP ditutup melemah 4% ke level 4.100.

Kepala Riset BNI Sekuritas Norico Gaman mengatakan, sejatinya tidak ada masalah dengan fundamental keempat saham tersebut. "Tapi, faktor eksternal terkait rebalancing MSCI Index menekan keempat saham tersebut," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (5/11).

Gambaran sederhananya, MSCI itu seperti Indeks LQ45. Likuiditasnya besar. Fundamentalnya juga menarik. Bedanya, LQ45 lebih dominan menjadi acuan investor dalam negeri. Sementara, MSCI menajdi patokan investor asing termasuk para fund manager.

Dengan kata lain, potensi keuntungan di balik saham-saham MSCI besar kerena likuiditas dan fundamentalnya yang menarik. Sehingga, ketika rebalancing MSCI dilakukan, investor dan fund manager terutama asing ikut melakukan rebalancing demi mengejar potensi gain yang lebih besar.

Salah satu caranya, membuang saham blue chip untuk masuk ke saham MSCI. Ini menjadi salah satu alasan saham BBTN justru menguat beberapa waktu terakhir selama adanya isu rebalancing tersebut.

Asal tahu saja, dalam rebalancing ini, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) masuk ke dalam daftar MSCI Global Standard Index terbaru. Indeks ini baru akan berlaku pada 30 November 2017.

Pada hari tersebut, saham BBTN naik 0,3% ke level Rp 3.200 per saham. Kenaikannya terus berlanjut hingga perdagangan Selasa (5/12) dengan naik lebih dari 3% ke level Rp 3.400 per saham.


Reporter Dityasa H Forddanta
Editor Dupla Kartini

BURSA EFEK INDONESIA / BEI

Feedback   ↑ x