Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) diyakini akan tumbuh positif tahun ini.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin bahkan memproyeksikan, penjualan semen INTP di tahun ini bakal mencapai 18,3 juta ton. Jumlah ini naik 7% dari realisasi penjualan tahun 2020 yang hanya 17,1 juta ton.
Menurut Mimi, ada sejumlah faktor yang akan mendongkrak penjualan semen INTP. Diantaranya yakni anggaran infrastruktur yang lebih tinggi dan potensi dimulainya kembali kegiatan ekonomi.
Mirae Asset memproyeksikan, pendapatan INTP naik 9,2% menjadi Rp 15,5 triliun di tahun 2021. Sementara tahun depan, pendapatan anggota indeks Kompas100 ini, bisa tumbuh 7,1% menjadi Rp 16,6 triliun.
Dari sisi bottom line, Mirae Asset memproyeksikan laba bersih INTP capai Rp 2 triliun atau naik 12,9% di akhir 2021. Sementara untuk tahun depan, laba bersih perusahaan semen ini diprediksi naik 18,6% menjadi Rp 2,4 triliun.
“Kami juga meyakini posisi neraca INTP cukup kuat, yang membuat INTP lebih tangguh dalam situasi yang tidak menentu seperti sekarang,” tulis Mimi dalam riset, Selasa (20/4).
Secara akumulasi, total volume penjualan INTP mencapai 4 juta ton sepanjang kuartal I-2021. Capaian ini lebih tinggi dari pencapaian periode yang sama tahun lalu yang hanya 3.9 juta ton.
Baca Juga: Penjualan semen Indocement (INTP) tumbuh di kuartal I 2021
Mempertimbangkan hasil volume penjualan semen domestik INTP tersebut, Mirae Asset Sekuritas menilai pendapatan perusahaan pada kuartal pertama akan tumbuh relatif datar secara year-on-year (YoY). Sementara pertumbuhan secara kuartalan atau quarter-on-quarter (QoQ) diproyeksikan kontraksi.
Sebab, secara historis, pada paruh pertama setiap tahun biasanya merupakan musim yang cukup sepi bagi industri semen. Permintaan secara siklikal akan lebih tinggi di paruh kedua, ketika volume penjualan biasanya meningkat karena dimulainya lebih banyak proyek konstruksi.
Volume penjualan (secara kuartalan) pada kuartal kedua ini akan turun karena adanya efek dari Lebaran. Namun, pertumbuhan secara tahunan diperkirakan akan positif karena adanya efek basis yang rendah (low base) di kuartal kedua 2020, seiring dengan implementasi PSBB pertama di Indonesia terjadi pada kuartal kedua tahun lalu.
“Oleh karena itu, meskipun pandemi Covid-19 masih ada, kami meyakini pemulihan volume tahunan akan terus berlanjut di beberapa kuartal ke depan,” sambung Mimi.
Mimi mempertahankan rekomendasi beli saham INTP dengan target harga yang lebih tinggi, yakni sebesar Rp 16.300. Sebelumnya Mirae Asset memberikan target harga INTP sebesar Rp 16.200 per saham.
Namun, risiko dari rekomendasi ini adalah pertumbuhan permintaan yang lebih lambat dari perkiraan, adanya kenaikan biaya lebih tinggi dari yang perkiraan (misalnya akibat kenaikan harga bahan bakar), dan / atau kelebihan pasokan yang lebih buruk dari perkiraan.
Pada perdagangan Jumat (23/4), saham INTP ditutup menguat 1,59% ke level Rp 12.800 per saham.
Selanjutnya: Bank BJB (BJBR) kantongi peringkat idAA- dari Pefindo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













