: WIB    —   
indikator  I  

Masa-masa Krusial bagi Bumi Resources

Masa-masa Krusial bagi Bumi Resources

JAKARTA. Aksi korporasi PT Bumi Resources Tbk kerap sulit ditebak, rumit, aneh tapi nyata. Tanpa terkecuali restrukturisasi utang senilai US$ 2,6 miliar yang sedang dihelat sekarang.

Proses restrukturisasi kali ini pun berliku-liku, serta melibatkan raksasa keuangan global dari China, yakni China Investment Corporation (CIC) dan China Development Bank (CDB). Keduanya adalah kreditur utama BUMI.

BUMI akan menerbitkan saham baru (rights issue) 28,75 miliar saham seri A dengan harga Rp 926,16 per saham atau senilai total Rp 26,62 triliun atau setara US$ 2,01 miliar. BUMI juga menerbitkan obligasi wajib konversi (OWK) senilai Rp 8,45 triliun atau setara US$ 639 juta.

Alhasil, total jenderal nilai total aksi korporasi BUMI mencapai Rp 35,07 triliun. Pekan-pekan ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menentukan sikapnya: menyetujui transaksi ini atau membatalkannya (Harian KONTAN, edisi 17 Juni 2017).

Nah, sebagai bagian restrukturisasi utang, para kreditur ini masuk menjadi pemegang saham BUMI. Bahkan, mereka juga menempatkan orang di jajaran direksi dan komisaris.

Dileep Srivastava, Direktur dan Sekretaris Perusahaan BUMI mengklaim, masuknya CIC dan CDB dalam jajaran direksi BUMI akan berdampak positif. "Target perusahaan bisa lebih terpantau," ujarnya kepada KONTAN, akhir pekan lalu.

Yang terang, ini bukan manuver pertama BUMI yang bikin tercengang banyak kalangan. Tahun 2007, BUMI menjual 30% saham Arutmin Indonesia kepada grup taipan India, Tata Power, dan masih bertahan sampai sekarang.

Tiga tahun kemudian, BUMI menggandeng Vallar Plc, konglomerasi asal London yang dipimpin Nathaniel Rothschild. Tapi, kongsi ini bubar di tengah jalan bahkan berakhir dengan keributan besar.

Sejak itu pula harga saham BUMI jatuh, bahkan sempat mencapai titik Rp 50 per saham. Di masa jayanya satu dekade lalu, harga BUMI mencapai Rp 8.750 per saham.

Analis menilai proses restrukturisasi kali ini membuka jalan bagi BUMI untuk bisa menggaet kembali kepercayaan publik. Apalagi, BUMI kini punya backing besar. Sekadar info, CIC adalah BUMN investasi terbesar kedua di dunia, berdasarkan aset.

William Surya Wijaya, Vice President of Research Indosurya Mandiri Sekuritas, menilai restrukturisasi utang BUMI kali ini amat krusial. Jika meraih izin efektif rights issue, harga saham BUMI bisa bangkit. "Manajemen yang baru bisa membantu BUMI memiliki tata kelola yang lebih baik," ujar dia.


Reporter Dityasa H Forddanta, Narita Indrastiti
Editor Barratut Taqiyyah Rafie

RESTRUKTURISASI UTANG BUMI

Feedback   ↑ x
Close [X]