: WIB    —   
indikator  I  

Kinerja emiten LQ45 bisa diadu di kawasan Asia

Kinerja emiten LQ45 bisa diadu di kawasan Asia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja keuangan konstituen indeks LQ45 hingga akhir kuartal ketiga berani diadu dengan konstituen indeks Asia Tenggara lainnya. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), 38 emiten penghuni indeks LQ45 yang sudah melaporkan laporan keuangan, mencatat pertumbuhan pendapatan 12,13% secara year on year (yoy) pada sembilan bulan pertama tahun ini.

Pertumbuhan pendapatan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan beberapa indeks seperti Hang Seng dengan pertumbuhan sebesar 11,67% secara yoy, Stock Exchange Thailand sebesar 10,53%, KOSPI sebesar 9,55% dan Nikkei 225 mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,83%.

Sementara itu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan mempertimbangkan 475 emiten yang telah melaporkan kinerjanya di kuartal ketiga tahun 2017 mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,77%.

Laba IHSG juga mencatatkan kenaikan ke angka 14,04% sementara LQ45 mencatatkan kinerja kinclong dengan pertumbuhan laba di kuartal ketiga 15,13% yoy. Angka ini hanya kalah dari performa indeks dari negeri Ginseng yakni KOSPI yang mencatatkan pertumbuhan laba 44,18% pada akhir kuartal ketiga 2017.

Reza Priyambada, analis Binaartha Parama Sekuritas menyebut bahwa saat ini investor akan cenderung memilih emiten-emiten yang berada di daftar LQ45 lantaran emiten-emiten tersebut merepresentasikan kinerja yang bagus.

"Masih ada ruang untuk naik lantaran saham LQ45 merepresentasikan saham yang bagus. Namun, di mata investor, ruang kenaikan cenderung tipis," kata Reza kepada Kontan.co.id, Rabu (14/11). Hal ini lantaran banyak saham penghuni LQ45 sudah dinilai premium, sehingga terdapat stigma tersebut.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri mengatakan bahwa pertumbuhan revenue dari LQ45 ini terutama didorong oleh pertumbuhan pendapatan dari emiten-emiten yang tahun lalu mencatatkan kinerja kurang baik namun di tahun ini bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang cukup signifikan seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

Pengerek kenaikan pendapatan ini terutama berasal dari kinerja dari sektor perbankan lantaran adanya penurunan suku bunga dan ekonomi yang semakin membaik, sektor industri dasar dan juga sektor pertambangan seiring dengan kenaikan harga komoditas saat ini.

"Indeks tahun ini naik 13% sudah sama dengan pertumbuhan revenue. Rata-rata pertumbuhan yang terjadi hampir sama dengan pertumbuhan IHSG, kita tidak bisa berharap terlalu banyak karena kebanyakan pertumbuhan indeks sudah melebihi kenaikan pendapatan," kata Hans kepada KONTAN, Rabu (14/11).

Hans mengatakan bahwa saat ini kenaikan indeks sudah mencerminkan kenaikan pendapatan emiten. Tapi untuk beberapa sektor seperti sektor pertambangan dan juga sektor konstruksi masih memiliki ruang pertumbuhan saham hingga akhir tahun yang akan datang. Hans memperkirakan, IHSG akan berada di angka 6.000 hingga akhir tahun mendatang.


Reporter Elisabet Lisa Listiani Putri
Editor Wahyu Rahmawati

KINERJA EMITEN

Feedback   ↑ x
Close [X]