Reporter: Dian Sari Pertiwi | Editor: Sanny Cicilia
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Federal Reserve (The Fed) berpeluang menaikkan suku bunga acuannya, Fed Fund Rate bulan Juni mendatang. Kebijakan yang bernada hawkish ini akan mempengaruhi kondisi domestik dalam jangka pendek.
Terlebih jika Bank Indonesia ikut mengerek suku bunga acuan, 7-day reserve repo rate (7DRRR). BI selama tujuh bulan terakhir menahan bunga di level 4,25%.
Meski begitu, analis sepakat bahwa kondisi pasar saham masih akan bullish hingga akhir tahun.
Vice President Research Departemen Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya bilang, pasar mungkin akan khawatir dengan perlambatan ekonomi karena bunga kredit menjadi mahal. Padahal, kebijakan naiknya suku bunga semata-mata untuk menjaga stabilisasi.
"Kalau suku bunga di luar tinggi, sementara Indonesia tidak ikut menaikkan suku bunga, jika mau jual bond tidak akan laku," ujar William, kepada Kontan.co.id, Jumat (13/4).
William memprediksi, kondisi ini akan mempengaruhi harga saham bergerak dalam posisi sideways. Bagi trader, posisi ini tentu akan sangat menguntungkan karena harga bergerak sangat fluktuatif. Begitu juga bagi investor, dapat meminang saham-saham bagus di harga terbaik.
Namun, Alfred menilai Bank Indonesia (BI) masih akan defensif mempertahankan suku bunga acuannya. Ada dua skenario yang akan BI lakukan dalam menghadapi kondisi ini. Pertama, BI akan mempertahankan suku bunga acuannya. "Dengan catatan, kondisi rupiah aman dan terdepresiasi namun tidak terlalu dalam," kata Alfred, Jumat (13/4).
Sebab, beberapa data makro menyebut kondisi fundamental ekonomi Indonesia dalam posisi baik. Hanya, jika rupiah tak sanggup menahan depresiasi, BI akan menaikkan suku bunga acuannya. "Cuma, BI tidak akan merespon secepatnya selama The Fed belum naikkan bunga, BI akan tetap bertahan," terang Alfred.
Alfred bilang, pasar berharap BI tak mengerek suku bunga acuannya. Soalnya dapat berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang sudah dipatok sebesar 5,3% sampai 5,4%.
Namun, pasar akan tetap realistis jika BI tak lagi sanggup menahan depresiasi rupiah. Kedua, jika BI menaikkan suku bunga acuan, dalam jangka pendek pasar akan merespon secara negatif. Seperti keluarnya dana asing dan harga IHSG akan terkoreksi.
"Pasar akan melakukan adjusment, dan pemerintah juga harus realistis menurunkan target pertumbuhan ekonomi," ujar Alfred.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













