: WIB    —   
indikator  I  

Infrastruktur tetap jadi favorit pasca Pilkada DKI

Infrastruktur tetap jadi favorit pasca Pilkada DKI

JAKARTA. Sinyal kemenangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno muncul setelah hasil quick count sejumlah lembaga survei menyatakan hasil perolehan suara pasangan itu mengungguli calon petahana Ahok-Djarot. Namun, siapa pun pemenangnya, sektor infrastruktur masih menjadi favorit market.

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan bilang, ia masih optimistis dengan sektor infrastruktur. Memang, visi membangun Jakarta antara Ahok dan Anies berbeda. Ahok lebih ke peningkatan pelayanan dengan pembangunan infrastruktur di sana-sini. Sementara, Anies lebih suka 'merangkul' supaya warga Jakarta menjadi bahagia.

Tapi, bukan berarti saat Anies memimpin nanti proyek infrastruktur jadi terhenti.

"Karena, proyek infrastruktur masih banyak dari proyek pemerintah. Jadi, andai proyek infrastruktur terhenti, dampaknya (negatif) nanti tidak signifikan. Ada dampak negatifnya tapi spesifik ke proyek-proyek seperti pembangunan kanal banjir dan sejenisnya," jelas Alfred.

Bima Setiaji, analis NH Korindo Sekuritas Indonesia sependapat. Proyek infrastruktur banyak berasal dari pemerintah pusat. Penyebaran proyeknya pun masif, hampir di seluruh wilayah Indonesia, bukan hanya Jakarta.

Kondisi anggaran saat ini pun lebih baik. Pemerintah juga banyak memberikan opsi sumber pendanaan. Bukan hanya fokus pada pendanaan dari pinjaman, tapi juga skema-skema investasi yang ada di pasar modal.

Hal ini masih diperkuat lagi dengan kondisi inflasi dan niai tukar rupiah yang lebih stabil. "Pada akhirnya, kami memprediksi sektor infrastruktur masih akan mencatat laba tinggi di 2017-2018," imbuh Bima.

Pasar juga ramai membicarakan saham-saham dengan nama yang dekat dengan Sandi. Ada saham PT Saratoga Investama Tbk (SRTG), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), dan seterusnya.

Ada juga saham-saham Grup MNC. Maklum, Harry Tanoesoedibjo (HT) menjadi salah satu pihak yang ada dibelakang Anies-Sandi.

Tapi, menurut Alfred, ekspektasi kenaikan saham konglomerasi itu hanya bersifat psikologis saja. Gambarannya sama seperti Trump Effect beberapa waktu lalu.

Saat itu, saham MNC Group digadang-gadang bakal meninggi karena HT dan Donald Trump memiliki kedekatan bisnis. Tapi nyatanya, saham-saham itu kembali bergerak normal dalam kurun waktu yang singkat.

"Karena hanya sebagian kecil saja yang melihat korelasi itu, dan pada akhirnya pasar kembali melihat fundamental masing-masing emiten," jelas Alfred.

Asal tahu saja, tiga lembaga survey, yakni PolMark Indonesia, LSI Denny JA, dan SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) menyatakan hasil suara berdasarkan quick count dan rata-rata suara yang masuk sekitar 90%, Anies-Sandi mengungguli Ahok-Djarot.

Mengutip Kompas.com, perolehan suara berdasarkan quick count PolMark Indonesia, Anies Sandi unggul dengan perolehan suara 57,63%, sementara Ahok-Djarot sebesar 42,47%.

Lalu, LSI menyatakan, Anies-Sandi memperoleh 55,7% suara. Ahok-Djarot hanya 44,3%. SMRC menyatakan Anies Sandi memperoleh suara 58,29% dan Ahok-Djarot 41,71%.


Reporter Dityasa H Forddanta

REKOMENDASI SAHAM

Feedback   ↑ x
Close [X]