: WIB    —   
indikator  I  

Bertaruh di atas kanvas

Bertaruh di atas kanvas

JAKARTA. Bukan rahasia lagi kalau lukisan bisa menjadi alternatif investasi yang menarik. Sampai sekarang, imbal hasil investasi lukisan masih menggiurkan.

Nilai sebuah lukisan bisa sangat fantastis. Ambil contoh lukisan karya Jean-Michel Basquiat, seniman asal Amerika Serikat (AS).

Dalam lelang di Sotheby's New York, Kamis lalu (25/5), salah satu karyanya terjual kepada miliarder Jepang Yusaku Maezawa seharga US$ 110,5 juta atau setara Rp 1,47 triliun. Ini adalah harga lukisan tertinggi pelukis AS dalam sejarah yang pernah dibeli kolektor. Harga lukisan berjudul "Untitled" ini sebelum lelang ditaksir US$ 60 juta saja.

Tertarik investasi lukisan? Amir Sidharta, Pengelola Balai Lelang Sidharta Auctioneer, mengatakan, seorang investor lukisan harus punya kemampuan membaca situasi pasar. Pengetahuan memadai soal lukisan juga diperlukan.

Sama seperti investasi saham, investor lukisan juga harus tahu fundamental sebuah lukisan. "Melihat lukisan tidak hanya soal harga, tapi juga estetika, teknik, konsep, nama serta reputasi pelukisnya," ujar Amir. Ini penting agar investor bisa menghitung valuasi lukisan dalam jangka panjang.

Investasi lukisan juga lebih cocok bagi investor dengan horizon jangka panjang, minimal sepuluh tahun. Itu pun tidak ada jaminan harga akan naik. "Namun jika menemukan lukisan yang tepat, bukan tidak mungkin dalam 20 tahun keuntungannya 100% bahkan hingga 1.000%," kata Amir.

Edwin Rahardjo, Ketua Asosiasi Galeri Seni Rupa Indonesia (AGSI), bertutur, si pemilik modal harus benar-benar paham peta dunia seni. "Jangan beli lukisan dengan kuping dan dompet," saran Edwin. Karena itu, tak semua orang cocok investasi di lukisan. Terlebih dahulu, menurut dia, si investor harus jadi penikmat seni.

Yang perlu diingat, risiko investasi lukisan termasuk tinggi. "Jangan dipikir semua lukisan bisa mendatangkan untung," tutur Deddy Kusuma, kolektor yang sudah mengoleksi berbagai karya seni sejak 35 tahun silam.

Dari berbagai koleksi lukisannya, Deddy mengaku, tak semuanya menguntungkan. Paling hanya 10%-20% yang harganya naik saat dijual lagi. Sekitar 20% dijual dengan harga yang sama saat beli dan sisanya bisa dijual rugi.

Agus Dermawan, kurator dan kolektor lukisan, menyebut tidak ada perhitungan harga baku untuk sebuah lukisan. Contoh, 10 tahun lalu harga lukisan Hendra Gunawan hanya Rp 100 juta, namun sekarang harganya melejit mencapai Rp 100 miliar. "Harga naik itu pasti tapi berapa besar tidak diketahui," kata Agus.

Jadi, patokan untuk menilai sebuah karya adalah kualitas, aktualitas dan kemampuan sang pelukis menyesuaikan zaman.

 


Reporter Namira Daufina, Riska Rahman
Editor Dupla Kartini

INVESTASI

Feedback   ↑ x
Close [X]