Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury kembali naik pada perdagangan Senin (28/9/2026).
Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya harga minyak dan ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi.
Kenaikan yield sempat lebih tajam pada awal perdagangan sebelum mereda setelah harga minyak memangkas penguatannya.
Baca Juga: Wall Street Ditutuo Turun Senin (28/9), Minyak dan Yield Treasury Tekan Saham AS
Harapan baru terhadap negosiasi antara AS dan Iran memberikan sedikit ruang bagi investor untuk mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Melansir Reuters, Yield Treasury tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei 2004. Sementara itu, yield Treasury 10 tahun mencapai level tertinggi sejak pertengahan Juni 2007. Yield tenor dua tahun juga sempat menyentuh level tertinggi sejak Mei 2024.
Kenaikan yield terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Namun, tekanan mulai mereda setelah seorang pejabat yang mengetahui proses negosiasi mengatakan kepada Reuters bahwa mediator Qatar kemungkinan menggelar pembicaraan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi di New York serta dengan pihak AS pada Senin atau Selasa.
Perkembangan tersebut turut mendorong harga minyak memangkas sebagian besar kenaikannya. Harga minyak mentah AS yang sebelumnya sempat melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Senin, pada sore hari hanya mencatat kenaikan tipis.
Baca Juga: Transaksi Short Selling Dimulai Besok 1 Oktober 2026, Baru 2 Sekuritas & 5 Saham
Taruhan Kenaikan Suku Bunga The Fed
Di tengah tekanan inflasi dan kenaikan harga minyak, pelaku pasar meningkatkan taruhan bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada Oktober.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober meningkat menjadi 68%, dari 64% pada Jumat (25/9/2026). Investor juga meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga lanjutan pada Desember.
Ekspektasi tersebut turut didorong komentar sejumlah pejabat The Fed yang dinilai lebih hawkish dalam beberapa hari terakhir.
Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan pada Senin bahwa tekanan inflasi diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, antara lain akibat permintaan terkait kecerdasan buatan (AI) dan kenaikan harga minyak. Namun, Cook tidak secara langsung mengatakan bahwa kenaikan suku bunga tambahan diperlukan.
“Selama ketidakpastian konflik Iran masih ada, kemungkinan akan terus ada tekanan ke atas pada yield obligasi,” kata Lawrence Gillum, chief fixed income strategist LPL Financial.
Menurut dia, kenaikan harga minyak dapat tercermin dalam laporan inflasi mendatang. Kondisi tersebut membuat pasar mulai memperhitungkan siklus kenaikan suku bunga The Fed dalam 12 bulan ke depan.
Namun, Gillum menilai ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga tersebut terlalu agresif. Ia memperkirakan inflasi akan melambat dalam setahun ke depan.
Baca Juga: Ada BBRI dan BBCA, Cek Saham yang Banyak Diborong Asing, Senin (28/9)
Yield Treasury Naik
Pada perdagangan Senin, yield Treasury AS bertenor 10 tahun yang menjadi acuan naik 4,88 basis poin menjadi 5,23%. Yield tersebut sempat mencapai 5,2741% pada perdagangan pagi.
Yield Treasury 30 tahun naik 5,36 basis poin menjadi 5,5556%, setelah sempat menyentuh 5,5829%. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2004.
Sementara itu, yield Treasury dua tahun naik 4,99 basis poin menjadi 4,914%, setelah sempat menyentuh 4,9555%. Yield tenor dua tahun biasanya paling sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga The Fed.
Pergerakan kurva yield juga menjadi perhatian pasar. Selisih yield Treasury dua tahun dan 10 tahun melebar menjadi positif 31,4 basis poin setelah sebelumnya turun ke 28,50 basis poin.
Baca Juga: Saham di Bawah Gocap Jadi Primadona, Simak Penjelasan Analis
Investor selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi AS pekan ini. Salah satu yang menjadi perhatian adalah laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Agustus yang akan dirilis Rabu.
Selain itu, laporan non-farm payrolls September pada Jumat juga akan menjadi perhatian karena dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














