kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.034   74,00   0,41%
  • IDX 5.185   -678,68   -11,57%
  • KOMPAS100 658   -103,29   -13,57%
  • LQ45 509   -81,53   -13,82%
  • ISSI 179   -22,02   -10,93%
  • IDX30 284   -45,14   -13,73%
  • IDXHIDIV20 366   -56,36   -13,33%
  • IDX80 75   -11,86   -13,59%
  • IDXV30 102   -13,53   -11,68%
  • IDXQ30 93   -14,99   -13,88%

Yield SBN Berpotensi Naik, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga hingga Awal 2027


Sabtu, 17 Oktober 2026 / 09:35 WIB
Yield SBN Berpotensi Naik, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga hingga Awal 2027
ILUSTRASI. Yield SBN diproyeksikan tetap tinggi hingga akhir 2026 di tengah tekanan inflasi global. BI-Rate berpotensi bertahan hingga 2027. (KOMPAS/IWAN SETIYAWAN)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek penurunan suku bunga acuan di Indonesia semakin menghadapi tantangan seiring meningkatnya tekanan inflasi global dan terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat.

Kondisi ini berpotensi menjaga imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tetap tinggi hingga akhir 2026 sekaligus membuat Bank Indonesia (BI) menahan BI-Rate lebih lama.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy memproyeksikan, yield SBN masih akan bergerak pada level tinggi seiring meningkatnya inflasi Amerika Serikat dan semakin terbatasnya ruang bagi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk memangkas suku bunga.

Berdasarkan perhitungannya, yield obligasi pemerintah bertenor 5 tahun diperkirakan bergerak di kisaran 7,0%–7,35% hingga akhir 2026.

Baca Juga: Pasar Saham Kacau Balau, Investor Ritel Harus Apa?

Sementara itu, yield SBN acuan bertenor 10 tahun diproyeksikan naik ke kisaran 7,15%–7,55%. Rentang tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 20 hingga 40 basis poin (bps) dari posisi saat ini di level 7,17%.

"Jika tekanan global memburuk dan spread dengan US Treasury kembali melebar, yield bahkan bisa mendekati 7,8%," ungkap Budi kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).

Kenaikan yield SBN tersebut berkaitan dengan meningkatnya daya tarik obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury. Kondisi ini berpotensi mendorong investor mengalihkan dana ke aset berdenominasi dolar AS dan meningkatkan risiko arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik.

Dalam skenario tekanan pasar yang memburuk, pasar surat utang Indonesia berisiko mengalami arus modal asing keluar sebesar Rp 10 triliun hingga Rp 30 triliun menjelang akhir tahun.

"Namun, ini merupakan simulasi risiko, bukan proyeksi pasti. Permintaan investor domestik masih dapat menjadi penyangga," jelas Budi.

Baca Juga: IHSG Anjlok Usai Pengumuman MSCI, Mirae Proyeksi Dana Asing Bisa Keluar US$ 3 Miliar

BI-Rate Berpotensi Bertahan hingga 2027

Meningkatnya risiko di pasar keuangan global dan potensi arus modal keluar turut membatasi ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Dalam kondisi tersebut, bank sentral diperkirakan akan lebih mengutamakan stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan mempercepat penurunan suku bunga acuan.

BI diproyeksikan mempertahankan BI-Rate di level 5,75% hingga akhir 2026. Penahanan suku bunga tersebut bahkan berpotensi berlanjut hingga awal 2027 apabila tekanan eksternal masih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×