kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   -1.000   -0,03%
  • USD/IDR 16.786   -3,00   -0,02%
  • IDX 8.950   -25,21   -0,28%
  • KOMPAS100 1.236   -8,06   -0,65%
  • LQ45 874   -8,67   -0,98%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 443   -7,16   -1,59%
  • IDXHIDIV20 518   -15,40   -2,89%
  • IDX80 137   -0,98   -0,71%
  • IDXV30 144   -3,83   -2,59%
  • IDXQ30 142   -3,05   -2,10%

Yield SBN 10 Tahun Naik ke 6,4%, Risiko Global-Domestik Jadi Sorotan


Selasa, 27 Januari 2026 / 14:01 WIB
Yield SBN 10 Tahun Naik ke 6,4%, Risiko Global-Domestik Jadi Sorotan
ILUSTRASI. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih berada dalam tekanan seiring meningkatnya kekhawatiran investor (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih berada dalam tekanan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik serta gejolak sentimen global.

Tekanan tersebut tercermin dari kenaikan yield SBN tenor 10 tahun yang menembus kisaran 6,37% pada Senin (26/1), naik dari sekitar 6,04% pada awal 2026.

Tekanan juga terlihat pada lelang Surat Utang Negara (SUN). Pemerintah menyerap dana sebesar Rp 36 triliun dari lelang sembilan seri SUN pada 20 Januari 2026. Namun, total penawaran yang masuk hanya mencapai Rp 82,90 triliun, lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya pada 6 Januari 2026 yang mencatatkan penawaran Rp 90,96 triliun.

Baca Juga: IPO BEI Raup US$ 1,1 Miliar Sepanjang 2025, Didorong Sektor Energi dan Konsumer

Menurut Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, tekanan di pasar obligasi tidak lepas dari kombinasi sentimen global dan domestik yang mendorong kenaikan premi risiko. Dari sisi global, terjadi aksi jual (global sell-off) di sejumlah pasar obligasi utama dunia.

“Dari Amerika Serikat, muncul rencana Presiden Donald Trump untuk mengenakan tarif terhadap Uni Eropa terkait isu Greenland. Ini memicu aksi jual di US Treasury, terutama oleh dana pensiun Eropa, yang kemudian memindahkan dananya ke aset di kawasan Eropa,” ujar Fikri kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).

Tekanan global juga datang dari Jepang. Pasar Japan Government Bond (JGB) mengalami sell-off akibat dinamika politik domestik, mulai dari ketidakpastian politik menjelang pemilu sela pada 8 Februari hingga janji pemotongan pajak makanan yang berpotensi memperlebar defisit fiskal Jepang, terutama dengan meningkatnya belanja pertahanan.

Baca Juga: Investor Perempuan Kuasai SBN Ritel 2025: ORI029 Tawarkan Kupon 5,8%, Simak Caranya

“Investor khawatir defisit fiskal Jepang akan membesar, sehingga terjadi aksi jual di JGB. Di saat yang sama, kekhawatiran tarif AS juga menekan pasar obligasi Eropa karena potensi penurunan pendapatan pajak di kawasan tersebut,” jelasnya.

Selain faktor ekonomi, risiko geopolitik turut memperburuk sentimen pasar. Ketegangan di Greenland hingga risiko konflik di Timur Tengah, khususnya Iran, meningkatkan kekhawatiran global. Kondisi ini mendorong investor meminta premi risiko yang lebih tinggi, tidak hanya di negara maju, tetapi juga di negara berkembang seperti Indonesia.

Dari sisi domestik, tekanan pasar obligasi diperparah oleh memburuknya persepsi terhadap kondisi fiskal. Fikri menyoroti realisasi defisit fiskal Indonesia pada akhir 2025 yang mencapai 2,92% dari PDB, lebih tinggi dari target awal APBN di kisaran 2,5%-2,57%.

“Defisit yang lebih besar dari perkiraan menambah kekhawatiran investor. Ditambah lagi shortfall penerimaan pajak yang mencapai Rp 271 triliun, dengan realisasi pajak hanya sekitar 88%,” ujarnya.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap daya bayar pemerintah ke depan, terutama di tengah tren penurunan tax ratio Indonesia. Risiko pelemahan peringkat kredit (sovereign rating) pun menjadi perhatian pasar, yang pada akhirnya mendorong kenaikan premi risiko SBN.

Tekanan juga datang dari pergerakan nilai tukar rupiah yang masih melemah. Namun, Fikri menilai pelemahan rupiah bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi minat investor terhadap SUN.

“Bukan cuma rupiah, tapi juga sentimen non-ekonomi, termasuk isu independensi BI, yang ikut menjadi perhatian pasar. Semua ini berdampak ke SBN, bahkan ke pasar saham,” katanya.

Meski demikian, Fikri menilai yield SBN di kisaran 6,37% saat ini mulai terlihat menarik bagi investor yang cermat, terutama dengan adanya ekspektasi penurunan suku bunga global ke depan, baik dari The Fed maupun bank sentral domestik.

Ke depan, Fikri memperkirakan yield SUN pada kuartal I-2026 masih akan bergerak fluktuatif. Jika sentimen risiko global dan domestik tetap tinggi, yield SBN berpeluang naik ke kisaran 6,6%. Namun, jika sentimen risiko dapat diredam, yield berpotensi turun mendekati 6,0%-6,1%.

“Untuk saat ini, pasar masih cenderung berada dalam kondisi risk-off. Belum ada katalis kuat yang membuat investor lebih percaya terhadap kekuatan ekonomi Indonesia, kecuali nanti muncul data ekonomi yang sangat positif,” pungkas Fikri.

Selanjutnya: Lippo Cikarang (LPCK) Catat Lebih dari 3.600 Unit Apartemen Meikarta Telah Dihuni

Menarik Dibaca: Kesehatan Kerja: 5 Risiko yang Fatal Akibat Duduk Lama di Depan Laptop

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×