kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Wall Street turun disetir ancaman Trump dan Brexit


Rabu, 12 Desember 2018 / 06:25 WIB
ILUSTRASI. Bursa AS


Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wall Street bergerak mixed cenderung melemah pada perdagangan Selasa (11/12). Hingga penutupan perdagangan dini hari tadi, Dow Jones Industrial Average turun 0,22% ke 24.370,24.

Indeks S&P 500 turun tipis 0,04% ke level 2.636,78. Sedangkan indeks Nasdaq malah menguat 0,16% ke 7.031,83.

Volatilitas pasar pada perdagangan kemarin cukup tinggi. Investor mengamati perkembangan pembicaraan dagang antara Amerika Serikat (AS) Dan China, ancaman Presiden AS Donald Trump soal penutupan pemerintahan AS, serta ketidakpastian Brexit.

Pada awal perdagangan, bursa saham sempat menguat seiring pembicaraan perdagangan AS-China. Tapi, pada sore hari, dua anggota parlemen mengajukan rancangan aturan untuk melarang penjualan produk AS ke perusahaan China yang melanggar aturan ekspor atau sanksi AS.

Trump bertemu dengan pemimpin Senat dan DPR dari Partai Demokrat untuk membahas pendanaan pembangunan tembok perbatasn Meksiko. Pada pembahasan inilah muncul ancaman penutupan pemerintahan AS. "Pasar sangat disetir oleh perkembangan terkini dan masih menunggu perkembangan selanjutnya," kata Dennis Dick, proprietary trader di Bright Trading kepada Reuters.

Dick menambahkan, para trader saat ini kebingungan. "Karena biasanya bulan Desember pasar saham menguat," kata dia.

Sementara itu, Carol Schleif, deputy chief investment officer Abbot Downing mengatakan, investor harus mengambil peluang di tengah volatilitas. "Kita tidak bisa mengontrol berita terbaru, tapi yang bisa ditekankan adalah bahwa fundamental yang mendasari pasar masih solid," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×