kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Wall Street terseret ketidakpastian setelah negosiasi AS-China


Selasa, 15 Oktober 2019 / 06:53 WIB
Wall Street terseret ketidakpastian setelah negosiasi AS-China
ILUSTRASI. Traders work on the floor at the New York Stock Exchange (NYSE) in New York, U.S., September 12, 2019. REUTERS/Brendan McDermid

Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Wall Street berakhir terkoreksi pada perdagangan Senin (14/10), dipicu ketidakpastian setelah negosiasi Amerika Serikat (AS)-China baru-baru ini. Kini pasar mengalihkan fokus mereka pada musim pendapatan kuartal ketiga, yang dimulai hari Selasa (15/10).

Ketiga rata-rata saham utama AS ditutup di zona merah, menghentikan kenaikan beruntun tiga hari di mana indeks acuan S&P 500 naik 2,7%.

Baca Juga: Simak rekomendasi saham Profindo Sekuritas untuk perdagangan Selasa (15/10)

Mengutip Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 29,23 poin atau 0,11% menjadi 26.787,36, S&P 500 kehilangan 4,09 poin, atau 0,14% menjadi 2.966,18 dan Nasdaq Composite turun 8,39 poin, atau 0,1%, menjadi 8.048,65.

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, semuanya kecuali real estat dan finansial mengalami kerugian.

Asal tahu, harapan meredup bahwa negosiasi perdagangan baru-baru ini antara AS dan China akan membuahkan hasil, karena China mengindikasikan diperlukan pembicaraan lebih lanjut.  

Baca Juga: Negosiasi dagang belum membuahkan hasil, bursa Wall Street tergelincir

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan putaran berikutnya tarif impor China akan mulai berlaku pada 15 Desember jika kesepakatan belum tercapai saat itu.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memuji fase 1 dari kesepakatan perdagangan AS-China sebagai "sejauh ini, kesepakatan terbesar yang pernah dibuat," tidak ada kesepakatan yang dibuat di atas kertas dan sebagian besar tarif impor China tetap berlaku.

"Tampaknya ada komitmen yang lebih lembut di pihak China daripada yang ditunjukkan pada hari Jumat," kata Joseph Sroka, kepala investasi di NovaPoint di Atlanta.



Video Pilihan

TERBARU

×