Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks Utama Wall Street ditutup melemah pada akhir perdagangan Rabu (14/10/2026). Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan menyebabkan Nasdaq ditutup turun tajam.
Kekhawatiran akan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve menekan saham Oracle, CoreWeave, dan saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) lainnya yang sensitif terhadap kenaikan biaya pinjaman.
Mengutip Reuters, indeks S&P 500 turun 1,11% ke level 7.718,94 poin; ini merupakan penurunan harian terbesar sejak 29 Juli.
Indeks Nasdaq turun 1,88% ke level 26.692,87 poin, penurunan harian terbesar sejak 23 Juli. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 0,09% ke level 51.621,48 poin.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 1,6%, Inflasi AS Picu Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed
Delapan dari 11 indeks sektor S&P 500 turun, dipimpin oleh sektor teknologi informasi yang turun 2,6%, diikuti oleh sektor layanan komunikasi yang melemah 1,78%.
Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 18 miliar saham dengan rata-rata 17,6 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Meningkatnya spekulasi bahwa The Fed perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk meredam inflasi memberikan pukulan telak bagi beberapa saham yang mencatat kenaikan terbesar di pasar pada tahun 2026.
Saham Oracle turun 8,8%, sementara perusahaan infrastruktur AI CoreWeave dan Nebius masing-masing anjlok 15% dan 10%.
Saham Dell dan Hewlett Packard Enterprise masing-masing merosot 11,4% dan 8,2% setelah Barclays menurunkan peringkat saham produsen server AI tersebut dari overweight menjadi equal-weight.
Indeks Semikonduktor Philadelphia SE turun 4,3%, mencatat penurunan selama enam sesi berturut-turut—rentetan penurunan terpanjang sejak Mei 2025.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Melemah Rabu (14/10), Inflasi AS Picu Spekulasi Kenaikan Bunga
Saham Bank of America turun 4,8%. Laba bank tersebut merosot pada kuartal ketiga karena perusahaan harus menyisihkan dana sebesar US$1,2 miliar untuk membayar denda regulasi akibat kegagalan mendeteksi potensi pencucian uang. Morgan Stanley turun hampir 3%, meskipun mencatatkan kenaikan laba kuartalan.
Harga konsumen AS meningkat lebih cepat pada bulan September seiring melonjaknya harga bensin dan meluasnya tekanan harga ke sektor di luar energi, menurut data dari Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) Departemen Tenaga Kerja AS.
Para pelaku pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 37% bahwa pembuat kebijakan The Fed akan menaikkan suku bunga bulan ini, naik dari 22% pada hari Selasa, menurut perangkat FedWatch milik CME.
"Investor tidak senang dengan laporan tersebut karena hal itu menekan The Fed untuk menaikkan suku bunga guna memerangi inflasi," ujar Adam Sarhan, CEO 50 Park Investments di New York.
"Inflasi tetap menjadi musuh utama bagi pasar dan The Fed."
Sebelum data inflasi dirilis, Wakil Ketua The Fed bidang Pengawasan, Michelle Bowman, menyatakan bahwa bank sentral memiliki waktu untuk memantau perkembangan pasar dan ekonomi pasca-kenaikan suku bunga bulan September, sebelum memutuskan langkah selanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














