Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada awal perdagangan Kamis (8/10/2026), karena harga minyak melonjak dan imbal hasil (yield) obligasi Treasury bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun, memicu kekhawatiran inflasi menjelang musim laporan keuangan yang akan menguji apakah laba perusahaan dapat mempertahankan momentumnya.
Mengutip Reuters, pada bel pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 178,5 poin, atau 0,35% ke level 51.001,38. Indeks S&P 500 turun 28,9 poin, atau 0,37%, ke level 7.772,87, sementara Nasdaq Composite turun 135,05 poin, atau 0,49%, menjadi 27.403,64.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak 4,9% menjadi lebih dari US$ 105 per barel akibat kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai pasokan dari Timur Tengah setelah meningkatnya serangan terhadap pelayaran di Teluk dan Selat Hormuz.
Baca Juga: Evaluasi MSCI November 2026, Akankah Status Freeze Pasar Saham Indonesia Dicabut?
Aksi jual di pasar obligasi tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10-tahun—yang menjadi acuan—berada di level 5,32%, mendekati angka tertinggi sejak tahun 2002.
Aset-aset berisiko di seluruh dunia mengalami tekanan pada hari Kamis. Saham-saham perusahaan teknologi berkapitalisasi pasar sangat besar (megacap growth stocks) secara umum melemah; Amazon.com, Tesla, dan Nvidia masing-masing turun antara 0,4% hingga 1%.
Perusahaan-perusahaan terkait cip juga mengalami penurunan, di mana Marvell Technology, AMD, dan Intel masing-masing kehilangan sekitar 2% nilainya.
Baca Juga: Debut iPhone 18 Jadi Katalis Bagi Erajaya (ERAA), Ini Rekomendasi Sahamnya
Prediksi laba kuartalan yang memecahkan rekor dari raksasa cip memori Samsung Electronics gagal mendongkrak sentimen pasar, dan sahamnya ditutup melemah di Korea Selatan. Pesaingnya, Micron Technology, turun 1,3%.
Sementara itu, Wall Street Journal melaporkan pada hari Rabu bahwa Broadcom sedang menyiapkan pendanaan sebesar US$50 miliar untuk OpenAI, dan Oracle juga mengupayakan jumlah dana yang tidak disebutkan nilainya. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa penerbitan utang dalam jumlah besar oleh perusahaan teknologi dapat memperketat persaingan dalam memperebutkan modal.
Saham Broadcom dan Oracle diperdagangkan lebih rendah di tengah pelemahan umum pada saham-saham sektor teknologi.
Kenaikan kembali imbal hasil Treasury dan harga minyak menekan indeks S&P 500 dan Nasdaq turun dari rekor tertinggi yang dicapai sehari sebelumnya, sementara indeks Dow mengakhiri tren kenaikan selama empat hari berturut-turut.
"Kita menghadapi tekanan ganda dari harga energi dan imbal hasil Treasury, serta minimnya data ekonomi baru; pasar cenderung bersikap wait and see terkait laporan kinerja keuangan yang baru akan dimulai secara intensif pekan depan," ujar Art Hogan, kepala strategi pasar di B. Riley Wealth.
Bank-bank besar, termasuk JPMorgan Chase, dijadwalkan akan melaporkan kinerja keuangan mereka pekan depan. Optimisme mengenai kinerja keuangan yang kuat telah menopang saham-saham AS belakangan ini, meskipun terdapat perkembangan geopolitik yang tidak menentu dan kekhawatiran akan kenaikan suku bunga.
Baca Juga: IDX Value30 Masih Jadi Andalan, Tiga Saham Ini Jadi Pilihan Analis hingga 2027
Sektor teknologi dan energi diperkirakan akan mencatatkan pertumbuhan laba kuartalan terbesar, sementara indeks S&P 500 secara keseluruhan diprediksi membukukan kenaikan laba kuartalan sebesar 30,6%, menurut data yang dihimpun oleh LSEG.
Pejabat Federal Reserve AS, Christopher Waller, mengisyaratkan kemungkinan jeda dalam kenaikan suku bunga pada pertemuan bank sentral mendatang. Ia menyatakan sebelumnya pada hari itu bahwa kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan untuk menurunkan inflasi ke target 2% yang ditetapkan The Fed, namun terdapat "fleksibilitas" terkait laju kenaikannya.
Para pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan bulan Oktober, namun kenaikan suku bunga pada bulan Desember masih mungkin terjadi, menurut data CME FedWatch.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














