kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.754   69,00   0,39%
  • IDX 6.396   -202,97   -3,08%
  • KOMPAS100 847   -26,92   -3,08%
  • LQ45 637   -13,66   -2,10%
  • ISSI 229   -9,22   -3,87%
  • IDX30 363   -5,99   -1,62%
  • IDXHIDIV20 449   -6,22   -1,37%
  • IDX80 97   -2,77   -2,77%
  • IDXV30 125   -3,34   -2,60%
  • IDXQ30 118   -1,39   -1,17%

Volatilitas Masih Terjadi, Stabilitas Rupiah Jadi Pendorong Sentimen Pasar


Selasa, 19 Mei 2026 / 11:42 WIB
Volatilitas Masih Terjadi, Stabilitas Rupiah Jadi Pendorong Sentimen Pasar
ILUSTRASI. Kredit Valuta Asing (valas) (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) melihat pasar Indonesia memulai pekan dengan tekanan setelah sentimen eksternal melemah akibat pembicaraan antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang gagal meredakan ketegangan terkait konflik Iran

Di satu sisi, Fithra Faisal, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia menyoroti rupiah yang terdepresiasi ke kisaran Rp 17.630– 17.672 per dolar AS pada Senin (18/5/2026). Ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pelemahan mata uang lebih lanjut.

Sentimen pasar saham juga memburuk, dengan IHSG anjlok lebih dari 4% secara intraday seiring investor merespons depresiasi rupiah, tekanan rebalancing MSCI, serta sentimen risk-off yang lebih luas. 

Baca Juga: Rupiah Tertekan, Intervensi BI Bikin Outlook Pasar Obligasi Makin Ketat

Di saat yang sama, ekonomi China menunjukkan tanda-tanda perlambatan pada awal kuartal II 2026, dengan melemahnya output industri dan penjualan ritel yang turut menekan ekspektasi pertumbuhan regional. 

“Kami memperkirakan volatilitas pasar masih akan tetap tinggi dalam jangka pendek, dengan stabilitas rupiah, arus dana asing, dan perkembangan geopolitik menjadi pendorong utama sentimen pasar,” ujar Fithra dalam risetnya pada Selasa (19/5/2026). 

Fithra melihat jika rupiah terus melemah menuju Rp 18.000 per dolar AS, maka tekanan terhadap inflasi impor, margin korporasi, dan minat investor asing berpotensi meningkat. 

Di dalam negeri, kekhawatiran terhadap iklim bisnis Indonesia juga dapat membebani momentum investasi, terutama setelah perusahaan lokal menyuarakan keluhan serupa dengan investor China.

Baca Juga: Logisticsplus (LOPI) Bidik Pendapatan Rp 299,53 Miliar pada 2026, Ini Strateginya

Meski demikian, upaya pemerintah memperkuat kerja sama internasional, memperbaiki program prioritas, dan menjaga belanja strategis dapat memberikan dukungan terbatas, walaupun investor kemungkinan tetap berhati-hati hingga risiko eksternal dan stabilitas mata uang membaik.

Pasar Bergejolak, IHSG dan Rupiah Tumbang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×