kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.561.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 17.960   33,00   0,18%
  • IDX 5.864   -79,24   -1,33%
  • KOMPAS100 761   -9,05   -1,18%
  • LQ45 590   -4,50   -0,76%
  • ISSI 201   -3,89   -1,90%
  • IDX30 329   -2,36   -0,71%
  • IDXHIDIV20 423   -1,46   -0,34%
  • IDX80 87   -0,86   -0,97%
  • IDXV30 116   -0,59   -0,51%
  • IDXQ30 108   -0,38   -0,35%

Volatilitas Harga Perak Lebih Tinggi dari Emas, Simak Strategi Investasinya


Kamis, 15 Oktober 2026 / 20:35 WIB
Volatilitas Harga Perak Lebih Tinggi dari Emas, Simak Strategi Investasinya
ILUSTRASI. Perak batangan (Sven Hoppe/DPA via REUTERS)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga perak berpeluang melanjutkan kenaikan hingga akhir 2026. Namun, investor perlu mempertimbangkan karakter perak yang memiliki volatilitas lebih tinggi dibandingkan emas, sehingga peluang kenaikan harga juga diikuti risiko koreksi yang lebih besar.

Mengutip Bloomberg, harga perak berada di level US$ 56,59 per ons troi pada Kamis (15/10/2026) pukul 19.54 WIB, naik 1,85% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan mengatakan, perak memiliki karakter pergerakan yang berbeda dari emas. Selain dipengaruhi sentimen pasar keuangan, harga perak juga berkaitan dengan kebutuhan industri, sehingga pergerakannya dapat lebih agresif ketika sentimen pasar membaik.

Perbedaan karakter tersebut membuat investor perlu menyesuaikan pilihan logam mulia dengan profil risiko masing-masing.

“Untuk investor jangka panjang, saya masih memilih strategi buy on weakness melalui akumulasi bertahap, terutama pada emas sebagai aset defensif. Perak dapat menjadi alternatif untuk investor dengan toleransi risiko lebih tinggi karena volatilitasnya lebih agresif,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Kamis (15/10/2026).

Baca Juga: Harga Emas Turun di Tengah Inflasi AS, Cermati Prospek dan Rekomendasi Analis

Meski menawarkan peluang kenaikan, pergerakan harga perak tetap dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Brahmantya menyebut investor perlu mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS), arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), indeks dolar AS atau DXY, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield).

Selain itu, perkembangan permintaan industri global juga perlu diperhatikan mengingat perak digunakan dalam berbagai sektor, termasuk elektronik, energi surya, dan elektrifikasi. Perubahan aktivitas industri dapat memengaruhi permintaan sekaligus menambah volatilitas harga perak.

“Investor perlu mencermati data inflasi AS, kebijakan The Fed, DXY, Treasury yield, serta perkembangan permintaan industri global,” tutur Brahmantya.

Dengan mempertimbangkan dinamika tersebut, Brahmantya memproyeksikan harga perak berpeluang bergerak di kisaran US$ 60–US$ 68 per ons troi hingga akhir 2026.

Baca Juga: Pembelian Bank Sentral Topang Emas, Simak Proyeksi Harganya hingga Akhir Tahun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×