Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) berencana mengubah utangnya sekitar Rp1,72 triliun menjadi saham baru lewat private placement atau penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD). Langkah ini bisa membuat struktur keuangan perusahaan lebih sehat, tetapi pemulihan kinerja usahanya masih menjadi pekerjaan rumah.
Menurut keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), VIVA akan menerbitkan sekitar 43,09 miliar saham baru dengan harga Rp40 per saham. Dengan cara ini, kewajiban perusahaan berkurang tanpa harus mengeluarkan uang tunai. Namun, jumlah saham yang bertambah banyak dapat mengubah porsi kepemilikan para pemegang saham lama.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Kevin Yudha Pratama, menilai konversi ini bisa menjadi awal perbaikan kondisi keuangan VIVA. Berkurangnya utang meringankan beban perusahaan dan memberi ruang lebih luas untuk mengelola sisa kewajiban.
Meski begitu, ia menegaskan langkah ini bukan jawaban atas semua masalah keuangan VIVA, dan belum tentu langsung memperbaiki kinerja bisnisnya. Perusahaan tetap perlu menaikkan pendapatan dan menekan pengeluaran.
Kevin juga memperkirakan dilusi kepemilikan bisa mencapai sekitar 72% jika seluruh saham baru diterbitkan. Saham yang lebih banyak berisiko menurunkan laba per saham (earnings per share/EPS) bila pertumbuhan laba tidak mengimbangi.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Bakrie 2008, Agunan Saham JARR-PGUN di BMRI Perlu Dicermati
Di sisi lain, analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai rencana ini sebagai langkah strategis. Utang yang berkurang dapat memangkas beban bunga, memperbaiki rasio utang terhadap ekuitas, dan membuat keuangan perusahaan lebih fleksibel.
Menurutnya, dilusi tidak otomatis menurunkan nilai intrinsik perusahaan, karena turunnya utang bisa menaikkan nilai ekuitas dan mengurangi risiko keuangan. Meski begitu, investor tetap perlu memperhatikan jumlah saham beredar, harga pelaksanaan, dan perubahan susunan pemegang saham.
Soal likuiditas, konversi utang menjadi saham tidak langsung menambah kas. Kevin menjelaskan bahwa berkurangnya kewajiban memang meringankan tekanan pembayaran kepada kreditur dan memudahkan pengelolaan kas harian. Namun tekanan likuiditas belum hilang jika kas yang tersedia masih kecil dibandingkan kewajiban jangka pendek.
Nafan menambahkan bahwa kemampuan VIVA memenuhi kewajiban jangka pendek bergantung pada kecukupan kas, pengelolaan modal kerja, dan arus kas dari operasional. Karena itu, arus kas operasional menjadi kunci agar perusahaan tidak terus bergantung pada restrukturisasi lanjutan.
VIVA juga masih menghadapi tantangan di bisnis utamanya. Kevin menyoroti pendapatan yang masih turun pada semester I 2026 dan kegiatan usaha utama yang masih merugi.
Laba bersih pada periode itu pun terbantu oleh keuntungan dari penjualan saham, sehingga investor perlu membedakan laba dari operasional dan laba dari transaksi nonoperasional.
Untuk menilai apakah pemulihan bisa bertahan, ia menyarankan perhatian pada iklan televisi, pertumbuhan bisnis digital, dan efektivitas pengendalian biaya. Nafan menambahkan bahwa VIVA perlu memperkuat daya saing bisnis medianya, mengoptimalkan aset dan portofolio konten, serta memperbaiki profitabilitas dan arus kas. Perusahaan juga harus bersaing dengan platform digital dan memonetisasi konten dengan lebih efektif.
Keberhasilan restrukturisasi tidak hanya diukur dari turunnya utang, tetapi juga dari kemampuan manajemen memperbaiki kinerja operasional secara berkelanjutan.
Jika berkurangnya utang diikuti kenaikan pendapatan, laba, dan arus kas, prospek pemulihan VIVA dalam jangka menengah bisa menguat. Sebaliknya, jika yang membaik hanya neraca tanpa peningkatan kinerja usaha, manfaatnya bagi nilai pemegang saham kemungkinan terbatas.
Baca Juga: Cisadane Sawit (CSRA) Bagi Dividen Interim Rp 30,75 Miliar, Potensi Yieldnya 2,19%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














