kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.705.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 16.973   -20,00   -0,12%
  • IDX 9.135   0,83   0,01%
  • KOMPAS100 1.255   -8,26   -0,65%
  • LQ45 884   -8,74   -0,98%
  • ISSI 334   -0,41   -0,12%
  • IDX30 454   -1,06   -0,23%
  • IDXHIDIV20 538   0,43   0,08%
  • IDX80 140   -1,06   -0,76%
  • IDXV30 149   -0,12   -0,08%
  • IDXQ30 146   -0,09   -0,06%

Valas Bergerak Beragam Usai Ancaman Tarif Trump, Analis Ungkap Strategi & Peluangnya


Selasa, 20 Januari 2026 / 17:57 WIB
Valas Bergerak Beragam Usai Ancaman Tarif Trump, Analis Ungkap Strategi & Peluangnya
ILUSTRASI. Ancaman Trump guncang pasar valas global. Analis peringatkan risiko tinggi. Lindungi aset Anda, pelajari strategi mitigasi kerugian sekarang! (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan valuta asing (valas) utama bergerak beragam pasca Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memberi tarif dagang tambahan ke sejumlah negara di Eropa terkait Greenland.

Mengutip Trading Economics, Senin (20/1/2026) pukul 17.35 WIB, pasangan valas EUR/USD naik 0,65% secara harian ke 1,1722, valas GBP/USD naik 0,42% secara harian ke 1,3481, valas AUD/USD menguat 0,24% secara harian ke 0,6730.

Berikutnya, pasangan valas USD/JPY terkoreksi 0,16% secara harian ke 157,86 dan valas USD/CHF terkoreksi 0,87% secara harian ke 0,7903.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, mengatakan strategi investasi valas yang paling efektif saat ini adalah mengedepankan manajemen risiko dan diversifikasi.

Baca Juga: Valas Global Bergerak Beragam Usai Ancaman Tarif Trump ke Eropa soal Greenland

“Investor perlu memadukan analisis fundamental dan teknikal, mengatur ukuran posisi secara proporsional, serta tetap fleksibel dalam merespons perubahan kebijakan moneter global dan data ekonomi utama,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).

Adapun untuk tujuan trading dan mencari peluang dari pergerakan harga, Brahmantya mengatakan bahwa broker/pialang menawarkan fleksibilitas dan likuiditas yang lebih tinggi.

Sementara membeli mata uang asing secara langsung lebih cocok untuk kebutuhan lindung nilai atau simpanan nilai, tetapi kurang optimal untuk memanfaatkan momentum pasar.

Keunggulan lainnya juga ada pada kecepatan transaksi, akses pasar global, serta peluang profit dari dua arah pergerakan harga. Namun di sisi lain, risikonya juga lebih tinggi jika leverage tidak dikelola dengan baik. “Karena itu, edukasi dan pengelolaan risiko menjadi faktor kunci,” terang Brahmantya.

Brahmantya menambahkan bahwa fokus pasar saat ini tertuju pada kebijakan suku bunga bank sentral, arah inflasi global, pertumbuhan ekonomi AS dan China, serta tren harga komoditas. Selain itu, isu geopolitik dan arus modal global juga menjadi penggerak utama volatilitas.

“Saya melihat peluang potensi penguatan pada Australian Dollar (AUD) terhadap mata uang lainnya. Sebagai mata uang berbasis komoditas, AUD sangat dipengaruhi sektor pertambangan,” ucap Brahmantya.

Brahmantya bilang bahwa AUD merupakan mata uang berbasis komoditas yang sangat sensitif terhadap kinerja sektor pertambangan. Saat harga emas dan perak mengalami tren penguatan, dampaknya langsung terasa pada ekspor Australia.

Peningkatan nilai ekspor ini memperbaiki neraca perdagangan dan memperkuat aliran devisa, yang pada akhirnya memberikan dorongan fundamental terhadap nilai tukar AUD. Sektor tambang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Australia.

Baca Juga: Investasi Valas Perlu Pertimbangkan Risiko dan Potensi Keuntungan

Ketika harga logam mulia dan komoditas tambang naik, pendapatan negara dan korporasi tambang meningkat, sentimen investor membaik, dan permintaan terhadap AUD ikut terdorong.

“Inilah yang membuat AUD sering disebut sebagai “proxy” pergerakan komoditas global,” jelas Brahmantya.

Senada, Taufan Dimas Hareva, Research and Development ICDX, menyarankan investor menerapkan strategi selektif dan defensif, dengan fokus pada manajemen risiko. Diversifikasi pada pasangan valas berbasis safe haven seperti Yen Jepang (JPY) dan Swiss Franc (CHF) dapat menjadi langkah antisipatif.

“Untuk tujuan jangka pendek, strategi trading berbasis sentimen global dan dinamika geopolitik dapat dimanfaatkan, sementara untuk jangka menengah, investor perlu mencermati perbedaan arah kebijakan bank sentral utama sebagai penentu tren utama pergerakan valas,” jelas Taufan.

Selanjutnya: Menhub Beberkan Kronologi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 IAT

Menarik Dibaca: Hasil Daihatsu Indonesia Masters 2026, 3 Unggulan di Sektor Ganda Bertumbangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×