Reporter: Nisa Dwiresya Putri | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Selasa (3/10) ditutup di level 5.939,45. Dihitung sejak awal tahun, IHSG sudah naik 12,13%. Namun, kenaikan ini masih kalah jika dibandingkan dengan kenaikan indeks saham sektor keuangan, infrastruktur, dan industri dasar.
Pada periode yang sama, indeks saham sektor keuangan naik 25,39%. Mengiringinya, indeks saham sektor infrastruktur juga naik 15,15% dan indeks sektor industri dasar naik 14,9%.
Analis melihat adanya beberapa sentimen di sepanjang tahun ini, yang menjadi penggerak tiga sektor saham tersebut hingga bisa naik melampaui kenaikan IHSG. Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido menilai, penurunan suku bungalah asal muasalnya kenaikan sektor perbankan.
Di semester II tahun ini, dalam dua rapat dewan gubernur (RDG) berturut-turut, Bank Indonesia (BI) memangkas BI 7-day reverse repo rate total 50 bps. Kini bunga acuan BI berada di level 4,25%. Hal ini menurut Kevin dapat memberi katalis positif bagi saham sektor keuangan terutama perbankan.
Selain itu, Analis NH Korindo Sekuritas Raphon Prima juga mengingatkan adanya sentimen yang mendongkrak sektor keuangan di semester I. Tepatnya di bulan Mei 2017, lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s telah menyematkan predikat investment grade untuk Indonesia.
Di sektor infrastruktur, baik Kevin maupun Raphon sepakat bahwa saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) yang menjadi penggerak. Pasalnya, TLKM bersama beberapa emiten infrastruktur telekomunikasi lainnya menurut Kevin menyediakan pelayanan yang menarik.
Secara fundamental pun masih menggembirakan. Selain TLKM, Kevin mengambil contoh PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) sebagai emiten telekomunikasi yang masih mencatat kinerja mentereng. “Infrastruktur juga ditopang oleh rally saham JSMR di tengah ekspektasi terhadap perkembangan di sektor jalan tol,” tambah Raphon, Selasa (3/10).
Pada sektor industri dasar, Kevin dan Raphon kembali sepakat bahwa penggeraknya adalah saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Kevin melihat adanya sentimen harga minyak dunia yang cenderung sideways, hingga menguntungkan bagi saham TPIA. Tak hanya itu, secara fundamental Raphon juga mencatat bahwa TPIA yang kini memiliki market cap Rp 85 triliun, mencatat lonjakan kinerja semester I 2017.
Selanjutnya Raphon menilai bahwa saham-saham sektor industri dasar dan keuangan sudah mencatat kenaikan yang cukup tinggi. Karena itu, ruang penguatan menjadi sempit. Adapun di sektor infrastruktur, Raphon masih melihat ada peluang tumbuh.
Meski demikian, Raphon lebih menyarankan investor untuk masuk ke sektor konsumsi dan aneka industri. Spesifik, ia merujuk pada saham yang berbasis bisnis otomotif. Hal ini mempertimbangkan posisi return yang masih rendah dibanding sektor lainnya. Ditambah lagi Raphon melihat adanya potensi rebound pada pertumbuhan konsumsi domestik mulai kuartal III 2017.
Beberapa saham yang menjadi perhatian Raphon adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













