Sumber: Cointelegraph | Editor: Yudho Winarto
Venezuela dan Ketergantungan pada USDT
Situasi serupa juga terjadi di Venezuela. Anjloknya nilai bolivar Venezuela selama lebih dari satu dekade mendorong masyarakat luas mengadopsi USDT sebagai alat lindung nilai sekaligus sarana transaksi sehari-hari.
Rendahnya kepercayaan terhadap sistem perbankan membuat stablecoin digunakan secara luas, mulai dari pembayaran jasa hingga transaksi ritel. Banyak warga lebih memilih menggunakan dompet kripto ketimbang rekening bank.
“Itu cara membayar tukang kebun atau potong rambut. Anda bisa menggunakan Tether untuk hampir semua hal,” ujar pengusaha kripto Venezuela berusia 71 tahun, Mauricio Di Bartolomeo, kepada The Wall Street Journal.
WSJ juga mencatat bahwa adopsi USDT di Venezuela telah meluas meski minim platform resmi yang diatur untuk memperdagangkannya.
Selain masyarakat umum, USDT juga digunakan secara luas oleh perusahaan minyak negara Venezuela, Petroleos de Venezuela (PDVSA). Perusahaan tersebut dilaporkan mulai meminta pembayaran langsung dalam bentuk stablecoin untuk menghindari sanksi AS yang diberlakukan sejak 2020.
Diperkirakan sekitar 80% pendapatan minyak PDVSA diterima melalui Tether, yang juga digunakan untuk menyelesaikan berbagai transaksi masuk dan keluar perusahaan.
Baca Juga: Ancaman Pidana ke Powell: Ini Dampak Besar ke Nilai Tukar Dolar AS
Upaya Tether Melawan Penghindaran Sanksi
Menanggapi penyalahgunaan tersebut, Tether dilaporkan bekerja sama dengan pemerintah AS untuk memblokir dompet-dompet yang terlibat dalam penghindaran sanksi.
WSJ menyebut Tether telah mem-blacklist puluhan dompet terkait perdagangan minyak domestik.
Data dari AMLBot menunjukkan bahwa Tether telah membekukan sekitar US$ 3,3 miliar dana sepanjang 2023 hingga akhir 2025, dengan US$ 1,75 miliar di antaranya berupa USDT berbasis Tron.
Akhir pekan lalu, Tether juga dilaporkan membekukan tambahan US$ 182 juta USDT berbasis Tron di lima dompet, meski belum dipastikan apakah tindakan tersebut terkait langsung dengan Iran atau Venezuela.
Hingga kini, Tether belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut.
Selanjutnya: Indeks Dolar AS Bergerak Sideways, Begini Dampaknya ke Rupiah di Tahun 2026
Menarik Dibaca: Promo Paket Gokana Hebat Mulai Rp 99 Ribu, Makan Bertiga Jadi Lebih Hemat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News











