kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Terdorong Sentimen Domestik, Rupiah Berhasil Menguat 0,13% dalam Sepekan


Kamis, 14 April 2022 / 20:20 WIB


Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada hari ini, Kamis (14/4), rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 14.344 per dolar Amerika Serikat. Jika dibandingkan dengan penutupan sebelumnya, rupiah berhasil menguat 0,13%. Sementara dalam kurun waktu seminggu, rupiah juga menguat dengan angka yang sama, yakni 0,13%.

Hal yang sama terjadi di kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah ditutup menguat 0,07% ke Rp 14.349 per dolar AS. Sementara jika dihitung dalam seminggu terakhir, mata uang Garuda ini menguat 0,11%.

Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menjelaskan, dari sisi sentimen eksternal, sebenarnya kurang mendukung rupiah karena inflasi di AS yang tinggi memicu spekulasi soal agresivitas kebijakan moneter The Fed ke depan. Hanya saja, dua hari terakhir telah terjadi koreksi pada yield US Treasury yang sudah menguat tajam.

Baca Juga: Koreksi Dolar AS Mendorong Rupiah Menguat ke Level Rp 14.344 Per Dolar AS

“Para investor melakukan profit taking di US Treasury, rupiah pun diuntungkan dengan hal ini. Di sisi lain, dari dalam negeri, sentimen untuk rupiah sendiri cukup baik dalam sepekan ini,” ujar David ketika dihubungi Kontan.co.id, Kamis (14/4).

Menurut David, sentimen positif untuk rupiah datang dari aliran dana investor asing yang mengalir di pasar saham. Hal ini seiring dengan adanya IPO besar pada pekan ini yang mendorong dana tersebut masuk.

Selain itu, ia juga meyakini masih tingginya harga komoditas sejauh ini turut menjadi sentimen positif. Pasalnya, hal tersebut membuat aliran modal dari eksportir masih cukup kencang sehingga berpotensi membuat trade balance masih akan tetap surplus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×