kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Tembaga alami koreksi sesaat


Minggu, 27 Agustus 2017 / 15:02 WIB


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Rizki Caturini

KONTAN.CO.ID - Pasca menyentuh level tertingginya sejak November 2014, harga komoditas tembaga kembali melemah. Pelemahan ini terjadi karena aksi ambil untung disaat harga terlalu tinggi.

Mengutip Bloomberg pada penutupan perdagangan Jumat (25/8) tembaga kontrak pengiriman tiga bulanan di London Metal Exchange (LME) terkoreksi 0,33% ke level US$ 6.666 per metrik ton dibanding hari sebelumnya.

"Kemungkinam pelemahannya hanya sesaat karena sampai saat ini belum ada sentimen negatif yang membayangi harga," ujar Andri Hardianto, Analis PT Asia Tradepoints Futures kepada Kontan akhir pekan ini.

Secara fundamental tembaga cukup didukung cukup banyak sentimen positif. Penguatan harga pada Kamis (24/8) terjadi karena persediaan di London Metal Exchange (LME) yang terus mengalami penurunan. Sejak awal tahun 2017 penurunannya sudah mencapai 42%.

Meskipun sejauh ini data aktivitas manufaktur China belum menunjukkan kestabilan, harga masih disokong oleh kebijakan pemerintahan negeri tirai bambu itu yang memberlakukan larangan impor tembaga daur ulang. Padahal selama China tercatat mengimpor 46% tembaga daur ulang setiap tahunnya.

"Mau tidak mau harus ditutupi oleh tembaga olahan lainnya. Bulan lalu impor tembaga mengalami peningkatan 13%, sedangkan impor konsentrat dan biji tembaga naik 3%," paparnya.

Sementara itu dari sisi pasokan saat ini pasar masih dilanda kekhawatiran akan gangguan pasokan di tambang Escondida (Chili) dan tambang Grasberg (Indonesia). Pemogokan di tambang di Escondida berpeluang terjadi lagi, sedangkan dari dalam negeri pemerintah dan Freeport tak kunjung membuat kesepakatan pengelolaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×