kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.010   -47,00   -0,26%
  • IDX 5.161   164,77   3,30%
  • KOMPAS100 661   29,93   4,74%
  • LQ45 515   26,33   5,39%
  • ISSI 177   4,44   2,58%
  • IDX30 290   16,28   5,96%
  • IDXHIDIV20 381   23,62   6,61%
  • IDX80 76   3,63   5,02%
  • IDXV30 106   5,64   5,60%
  • IDXQ30 96   6,09   6,79%

Target Produksi TINS Melejit Saat Produksi Global Lesu, Simak Prospek Sahamnya


Selasa, 20 Oktober 2026 / 13:15 WIB
Target Produksi TINS Melejit Saat Produksi Global Lesu, Simak Prospek Sahamnya
ILUSTRASI. PT Timah Tbk (KONTAN/Sabrina Rhamadanty)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Timah Tbk (TINS) berpeluang melanjutkan pertumbuhan kinerja pada 2026 di tengah ketatnya pasokan timah global dan tingginya harga jual komoditas. Setelah membukukan lonjakan laba bersih hingga 805% pada semester I-2026, perseroan membidik peningkatan produksi dan penjualan secara agresif untuk memenuhi permintaan pasar.

Analis Binaartha Sekuritas Eka Rahmawati Rahman menilai bahwa ekspansi laba emiten tambang pelat merah ini didorong oleh kenaikan volume produksi secara signifikan yang berpadu dengan tingginya harga jual rata-rata komoditas di pasar global.

Manajemen TINS menargetkan volume produksi timah sebesar 30.000 metrik ton pada tahun 2026, yang mencerminkan tingkat pertumbuhan 61% secara tahunan.

Baca Juga: Aturan ARB 7% Berlaku, Ini Dampaknya pada Pergerakan IHSG

Sejalan dengan hal tersebut, target penjualan perusahaan juga diproyeksikan melonjak tajam hingga 50% secara year on year (yoy) menjadi 25.000 metrik ton.

Capaian penjualan riil pada semester pertama tahun 2026 terbukti sangat solid dengan menyentuh 10.984 metrik ton, yang berarti telah memenuhi 44% dari keseluruhan target setahun penuh.

Menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey, sentimen di industri tambang mineral, khususnya sektor timah, ditopang oleh tingkat ketersediaan pasokan yang masih sangat terbatas.

Di tingkat global, tambang Man Maw di Myanmar terpantau hanya beroperasi pada kapasitas 40% hingga 50% dari level normal sebelum adanya pembatasan larangan ekspor.

Sementara itu, angka ekspor komoditas timah dari Indonesia juga tercatat merosot 18% YoY pada delapan bulan pertama 2026 di bawah kendali kuota perizinan yang lebih ketat.

"Harga timah di LME bertahan di atas US$50 ribu per ton sejak akhir Juni, meskipun stok di LME telah berkurang separuh dari puncak bulan Juni yang mencapai sekitar 8,8 ribu ton menjadi sekitar 4,3 ribu ton," papar Andhika dalam risetnya, (16/10/2026).

Pengetatan pasokan global tersebut memberikan keuntungan finansial bagi TINS sebagai salah satu pemain mineral utama di Tanah Air.

Baca Juga: Wika Beton (WTON) Ekspansi ke Filipina, Pasok Bantalan Rel Proyek Metro Manila Subway

Perusahaan turut menjadi penerima manfaat utama dari ketegasan tindakan pemerintah terhadap segala aktivitas penambangan bijih timah ilegal di kawasan operasional.

Pangsa ekspor nasional TINS sukses mendominasi hingga level 56% dalam delapan bulan pertama tahun 2026, naik signifikan dari posisi 34% sepanjang tahun 2025.

Dari sisi kinerja keuangan, lonjakan pendapatan sukses dibukukan berkat sokongan dari membesarnya harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) internasional.

Pendapatan perusahaan pada semester perdana 2026 menembus Rp 10,42 triliun, melesat 147% jika dibandingkan dengan capaian periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian laba bersih pada periode tersebut lantas meroket 805% YoY menjadi Rp 2,71 triliun dan telah mengamankan 66% dari total proyeksi analis setahun penuh.

Tingkat rentabilitas perusahaan berupa margin laba kotor masih mampu dipertahankan stabil pada posisi 39%.

Stabilitas margin tersebut diraih karena kuatnya laju pembengkakan biaya perlengkapan operasional dapat diimbangi oleh tren kenaikan harga jual.

Pada perhitungan beban, tekanan berat mulai bermunculan seiring dengan masifnya target peningkatan skala volume produksi pertambangan.

Biaya setoran royalti perusahaan pada paruh pertama 2026 naik tajam menjadi Rp 1,03 triliun dari sebelumnya hanya Rp 0,22 triliun pada semester perdana 2025.

Komponen beban pokok juga bertambah besar seiring dengan beban bahan bakar yang membengkak 39% YoY menjadi Rp 312 miliar.

Baca Juga: Saham Batubara Lebih Tahan Guncangan MSCI, Indo Premier Jagokan Saham AADI dan PTBA

Sekalipun akumulasi beban meningkat pesat, arah sentimen fundamental pasar global dinilai masih berpihak penuh pada prospek TINS.

"Defisit timah olahan global pada semester pertama tahun 2026 (produksi 173.536 ton berbanding konsumsi 179.256 ton), sementara permintaan dari infrastruktur AI, data centers, semikonduktor, kendaraan listrik, dan penyimpanan energi terus meningkat," ujar Eka dalam risetnya (8/10/2026).

TINS tidak hanya bergantung pada operasi konvensional semata. Emiten ini tengah menggencarkan eksplorasi material langka berupa unsur tanah jarang (rare earth elements/REE) dengan menggandeng PT Perusahaan Mineral Nasional (PERMINAS) melalui perjanjian yang efektif sejak 20 Mei 2026.

Sinergi strategis tersebut diamanatkan untuk berfokus pada pengolahan terak timah, material monasit, serta REE di Kepulauan Bangka Belitung.

Proyek ini berada pada tahap awal, dan akses terhadap teknologi pemrosesan tetap menjadi tantangan utama perusahaan.

Mempertimbangkan deretan capaian tersebut, Andhika merekomendasikan buy untuk saham TINS dengan target harga Rp 4.800 per saham. Sementara itu, Eka menyarankan hold dengan target harga Rp 5.070 per lembar saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×