Reporter: Maggie Quesada Sukiwan | Editor: Yudho Winarto
JAKARTA. Kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 2% menjadi amunisi bagi mata uang Negeri Kanguru. Mengacu Bloomberg pada Selasa (6/10) pukul 17.20 WIB, pasangan AUD/USD naik 0,51% menjadi 0,7119.
Alwi Assegaf, Analis SoeGee Futures menjelaskan, kenaikan tersebut merupakan imbas dari keputusan RBA mempertahankan suku bunga acuannya. Apalagi tidak ada pernyataan pejabat RBA yang bernada dovish.
Padahal, lanjut Alwi, sebelumnya pasar khawatir akibat perlambatan ekonomi China yang merupakan mitra dagang komoditas Australia. Hal ini menjadi sinyal pelonggaran kebijakan moneter Australia. “Tapi tidak ada sinyal seperti ini dalam pernyataan Gubernur RBA Glenn Stevens, makanya dollar Australia rebound,” tukasnya.
Glenn menyatakan bahwa dari informasi yang tersedia, ekspansi ekonomi dalam level moderat dianjurkan untuk terus berlanjut. Kendati pertumbuhan ekonomi Australia di bawah rata-rata pencapaian jangka panjang, kondisi ini dibarengi dengan pertumbuhan jumlah pekerja dan tingkat pengangguran yang stabil sepanjang tahun lalu.
Angin segar ini menutupi rilis data neraca perdagangan Australia (Trade Balance) per Agustus 2015 yang tercatat minus A$ 3,1 miliar, lebih buruk ketimbang pencapaian bulan sebelumnya yang minus A$ 2,79 miliar.
Dari sisi dollar Amerika Serikat (AS), lanjut Alwi, mata uang Negeri Paman Sam memang sedang terpukul akibat rilis data ISM Non-Manufacturing PMI per September 2015 yang tercatat 56,9, lebih rendah ketimbang posisi bulan sebelumnya di level 59. Kusamnya data ekonomi AS mengecilkan peluang kenaikan suku bunga acuan di Oktober dan Desember 2015.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













