Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Noverius Laoli
Dari sisi profitabilitas, tekanan margin dinilai menjadi konsekuensi dari strategi harga rendah tersebut.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand memperkirakan margin EBITDA WIFI akan mengalami penurunan dalam jangka pendek.
“Margin EBITDA FY26 diperkirakan turun menjadi 48,6% akibat biaya awal yang tinggi, seperti BHP spektrum, sewa jaringan, dan biaya distributor,” ujarnya.
Baca Juga: Internet Rakyat Jadi Game Changer Solusi Sinergi (WIFI), Cek Rekomendasi Sahamnya
Meski demikian, ia melihat perbaikan margin berpotensi terjadi seiring meningkatnya skala bisnis.
“Margin diproyeksikan kembali membaik menjadi sekitar 54,1% mulai FY27 seiring normalisasi struktur biaya dan meningkatnya skala operasional,” jelasnya.
Secara keseluruhan, keberlanjutan strategi ini akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan dalam meningkatkan skala ekonomi dan efisiensi operasional.
“Strategi harga rendah memang efektif untuk meningkatkan penetrasi pasar, tetapi berpotensi menekan margin apabila tidak diimbangi dengan pertumbuhan pelanggan yang signifikan,” kata Azis.
Ia menambahkan, faktor retensi pelanggan dan optimalisasi utilisasi jaringan juga menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Baca Juga: WIFI Masuk Fase Pertumbuhan Baru Lewat Internet Rakyat, Cek Rekomendasi Sahamnya
Dari sisi rekomendasi, Azis memberikan rekomendasi buy untuk saham WIFI dengan target harga Rp 2.800 per saham.
Sementara itu, Abida juga mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 4.100 per saham, meski target tersebut diturunkan dari sebelumnya.
“Valuasi masih menarik pada 7,3 kali EV/EBITDA FY26F, meskipun visibilitas monetisasi jangka panjang masih berkembang,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
