kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Strategi Erajaya (ERAA) Jaga Kinerja di Tengah Pelemahan Rupiah


Senin, 29 Juni 2026 / 20:52 WIB
Strategi Erajaya (ERAA) Jaga Kinerja di Tengah Pelemahan Rupiah
ILUSTRASI. Gerai Erajaya Swasembada (ERAA) (KONTAN/Vatrischa Putri)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga kinerja di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) beberapa waktu belakangan ini.

Vice President Director ERAA Hasan Aula mengatakan tekanan akibat penguatan dolar AS dirasakan di hampir seluruh lini bisnis perusahaan. Maka dari itu, perusahaan memperketat pengelolaan risiko nilai tukar valuta asing atau foreign exchange (forex) agar dampaknya terhadap operasional dapat diminimalkan.

Apabila ada potensi kebutuhan pembelian dalam dolar AS, Erajaya akan melakukan langkah antisipatif melalui hedging.

Baca Juga: Saham ADRO Diuntungkan Pelemahan Rupiah, Cek Rekomendasi Analis

"Kita tetap mengelola forex dengan lebih hati hati dan melakukan (pendekatan) forward looking," kata Hasan dalam paparan publik, Senin (29/6/2026).

Selain strategi lindung nilai, Erajaya juga diuntungkan karena sebagian besar produk yang dipasarkan telah diperoleh dari pemasok lokal. Dus, eksposur perusahaan terhadap fluktuasi kurs relatif lebih terbatas.

Hasan menjelaskan, hanya beberapa merek tertentu, terutama pada segmen perangkat atau device, yang masih diimpor langsung. Sementara itu, mayoritas produk yang dijual perusahaan berasal dari pembelian di dalam negeri.

"Jadi semoga ini juga bisa balancing kita punya risk forex sehingga tidak terlalu banyak membebankan perusahaan dan juga konsumen," kata Hasan dalam paparan publik, Senin (29/6/2026).

Terkait target kinerja keuangan hingga akhir tahun 2026, sayangnya ERAA tidak merinci lebih lanjut. Yang jelas, perusahaan memastikan agenda ekspansi tetap berjalan untuk mengerek kinerja hingga akhir tahun ini. 

ERAA akan terus memperluas portofolio merek yang dipasarkan sekaligus menambah jumlah gerai sebagai bagian dari strategi memperkuat bisnis dan menjangkau lebih banyak konsumen.

Prospek ERAA di Tengah Tantangan Rupiah

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama menyampaikan pelemahan rupiah berpotensi menekan margin ERAA karena sebagian besar produk yang dipasarkan masih bergantung pada impor dan berdenominasi dolar AS. 

"Jika depresiasi rupiah berlangsung cukup lama, biaya pengadaan akan meningkat," kata Elandry kepada Kontan, Senin (29/6/2026). 

Meski demikian, dampaknya dapat diredam melalui penyesuaian harga jual, pengelolaan persediaan, serta bauran produk yang lebih baik, sehingga tekanan terhadap kinerja tidak selalu terjadi secara langsung.

Elandry juga menjelaskan prospek ERAA pada 2026 masih relatif positif, didukung oleh siklus peluncuran smartphone baru, ekspansi jaringan ritel, serta kontribusi bisnis non-handset seperti lifestyle dan consumer electronics.

Di sisi lain, tantangan utama berasal dari pelemahan daya beli, nilai tukar rupiah, serta persaingan yang tetap ketat sehingga berpotensi menekan margin dan pertumbuhan penjualan.

Analis Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo turut menambahkan. Pelemahan rupiah menjadi salah satu tantangan utama bagi ERAA mengingat sebagian besar produk yang dipasarkan, seperti smartphone dan perangkat elektronik, masih bergantung pada impor dan menggunakan mata uang dolar AS. 

"Kondisi ini berpotensi meningkatkan harga pokok penjualan serta menekan margin laba apabila kenaikan biaya tidak dapat sepenuhnya diteruskan kepada konsumen," tambah Azis.

Secara prospek, tahun 2026 dinilai masih cukup menantang. Pelemahan rupiah, daya beli yang belum sepenuhnya pulih, serta persaingan yang ketat menjadi faktor utama. Namun, peluncuran produk baru, siklus penggantian smartphone, dan diversifikasi bisnis dapat menjadi penopang kinerja.

Rekomendasi Saham

Elandry masih mempertahankan pandangan positif terhadap ERAA dengan rekomendasi buy dan target harga di kisaran Rp 500 per saham. Secara valuasi, ERAA diangggap masih cukup menarik dibandingkan prospek pertumbuhan laba ke depan, meski investor tetap perlu mencermati risiko dari volatilitas nilai tukar dan konsumsi domestik.

Sementara itu, Azis menyarankan trading buy saham ERAA di target harga Rp 384 per saham.

Baca Juga: Menakar Prospek Saham Grup Alamtri pada Sisa 2026, Siapa Berpeluang Unggul?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×