kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45931,36   3,72   0.40%
  • EMAS1.320.000 -0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Spread Suku Bunga Acuan BI dan The Fed Tipis, Kurs Rupiah Diprediksi Stabil


Senin, 21 Agustus 2023 / 10:59 WIB
Spread Suku Bunga Acuan BI dan The Fed Tipis, Kurs Rupiah Diprediksi Stabil
ILUSTRASI. Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/05/05/2021.


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI 24 Agustus mendatang. Dengan begitu, selisih (spread) suku bunga acuan BI dengan The Fed akan tetap tipis.

Sebagai pengingat, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed  kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) ke 5,25%-5,50% pada pertemuan bulan Juli 2023.

Analis Mata Uang Lukman Leong mengatakan, spread suku bunga yang tipis tersebut bukan hanya terjadi pada Indonesia. Banyak negara dengan mata uang utama maupun negara berkembang lainnya yang justru memperlihatkan spread negatif.

Baca Juga: Nilai Rupiah Berpotensi Lebih Lemah

Menurut Lukman, kondisi ini akan membuat dolar Amerika Serikat (AS) lebih menarik. Di sisi lain, BI telah rutin mengintervensi, tercermin dari cadangan devisa yang naik sangat pelan dibandingkan dengan surplus perdagangan yang berkepanjangan.

"Revisi PP terkait Devisa Hasil Ekspor sangat diharapkan akan membantu cadangan devisa Indonesia karena hanya intervensi yang memungkinkan saat ini ketika tidak mungkin menaikkan suku bunga," ucap Lukman saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (20/8).

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo melihat, celah suku bunga yang tipis akan membuat pasangan USD-IDR cukup stabil. Namun, perlu diingat bahwa suku bunga bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi pergerakan instrumen investasi.

"Kita harus melihat perkembangan makroekonomi lainnya, seperti pertumbuhan global, geopolitik dan inflasi global juga akan turut memberikan sentimen pada instrumen investasi," kata Sutopo.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah di Awal Perdagangan Senin (21/8)

Lukman melihat, idealnya BI akan berusaha menjaga rupiah di kisaran Rp 15.500 dan tidak melewati Rp 16.000 per dolar AS. 

Perlu diingat bahwa The Fed diperkirakan paling cepat akan menurunkan suku bunganya di kuartal kedua tahun depan, yakni di sekitar bulan April 2024.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
EVolution Seminar Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP)

[X]
×