Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Tendi Mahadi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten bersiap mencari dana di pasar modal lewat mekanisme rights issue atau menerbitkan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Sejauh ini, Kontan.co.id mencatat sudah ada delapan emiten yang tengah bersiap-siap melakukan rights issue.
Lalu, bagaimana menilai prospek emiten yang akan melakukan rights issue ini?
Baca Juga: Emiten ramai rights issue, pertanda pasar sudah kondusif?
Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, salah satu kriteria menariknya suatu rights issue untuk dieksekusi adalah adanya pembeli siaga (standby buyer). Pembeli Siaga adalah pihak yang akan membeli baik sebagian maupun seluruh sisa saham dan/atau efek bersifat ekuitas lainnya yang tidak diambil oleh pemegang HMETD.
“Lalu apa tujuan rights issue tersebut. Sejauh pengamatan saya kalau yang tujuannya untuk melunasi utang agak kurang diminati,” ujar William kepada Kontan.co.id, Senin (11/5).
Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso menilai, investor memang perlu memperhatikan tujuan dari penggunaan dana rights issue. Investor juga mesti mencermati bagaimana kinerja serta strategi bisnis yang selama ini dilakukan perusahaan.
“Bagi perusahaan yang selama ini pengelolaannya baik dan selalu sesuai dengan rencana, bisa dipertimbangkan untuk eksekusi,” ujar dia saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (11/5).
Baca Juga: Dana kelolaan industri reksadana mulai naik perlahan
Selain itu, harga pelaksanaan juga bisa dijadikan pertimbangan apakah cukup sesuai dengan kondisi perusahaan sekarang dan prospeknya ke depan. Aria mengamini, suatu rights issue akan lebih menarik ketika harga pelaksanaannya berada di bawah harga pasar.













