kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Simak alasan mengapa pendapatan Chandra Asri naik


Selasa, 16 September 2014 / 19:32 WIB
ILUSTRASI. Antrian nasabah untuk melakukan transaksi keungan di kantor cabang Bank Mandiri Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Senin (19/9/2022). /pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/19/09/2022.


Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Kenaikan harga jual produk petrokimia sebesar 5%, membuat pendapatan PT Chandra Asri Petrochemichal Tbk (TPIA) terkerek.

Mengutip laporan keuangan perusahaan, semester pertama tahun ini perusahaan mengantungi pendapatan sebesar US$ 1,29 miliar. Nilai itu naik tipis dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 1,21 miliar.

"Kenaikkan pendapatan karena kenaikkan harga jual kurang dari 5%. Kenaikan disebabkan karena kebutuhan petrokimia sedang meningkat, sedang pasokannya tetap," ujar Investor Relation TPIA Harry Tamin, Selasa (16/9).

Portofolio pendapatan perusahaan terdiri dari penjualan lokal dan ekspor. Penjualan lokal sebesar US$ 980,52 juta, meningkat dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 920,64 juta. Sementara itu pendapatan dari ekspor sebesar US$ 312,94 juta, meningkat dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 293,59 juta.

Pendapatan dalam negeri perusahaan paling besar disumbangkan oleh Polyeolefin sebesar US$ 660,06 juta. Lalu ada Olefin US$ 155,47 juta, Styrene Monomer sebesar US$ 143,22 juta, dan Butadiene sebesar US$ 21,75 juta.

Sementara itu pendapatan ekspor disumbangkan oleh Olefin sebesar US$ 112,08 juta, Styrene Monomer sebesar US$ 92,31 juta, Butadiene sebesar US$ 96,37 juta dan Polyolefin sebesar US$ 12,16 juta.

Pendapatan yang terbilang jumbo itu harus kempes lantaran beban pokok penjualan perusahaan semester pertama tahun ini sebesar US$ 1,24 miliar. Beban yang besar berasal dari pos bahan baku US$ 947,12 juta dan biaya pabrikasi US$ 131,35 juta. "Bahan baku dasar utama kami naphta itu 90%-100% impor, karena belum bisa diproduksi disini," ujar Harry.

Meski demikian perusahaan masih mampu mencatat kenaikkan laba karena kenaikkan pendapatan tersebut. Pada semester pertama tahun ini perusahaan mencatat laba bersih senilai US$ 6,51 juta, meningkat dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 4,52 juta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×