kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Sepanjang 2011, return reksadana indeks melorot ikuti indeks acuan


Rabu, 07 Desember 2011 / 23:32 WIB
ILUSTRASI. Kurs dollar-rupiah di BNI hari ini Senin 11 Januari, intip sebelum tukar valas./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/17/07/2020


Reporter: Dyah Ayu Kusumaningtyas | Editor: Djumyati P.

JAKARTA. Sepanjang tahun ini para investor reksadana indeks harus menerima kenyataan pahit. Kinerja reksadana indeks yang selalu mengekor pada indeks acuannya benar-benar mepet. Menurut data PT Infovesta Utama, return produk Kresna Indeks 45 milik PT Kresna Asset Management untuk tahun ini (sampai akhir November) terkoreksi 0,81%, sedikit di atas indeks acuannya LQ45 yang di periode yang sama terkoreksi 0,75%.

Sementara Danareksa Indeks Syariah milik Danareksa Investment Management (DIM), return-nya lebih terpuruk lagi, yaitu merugi 1,28% sementara indeks acuannya Jakarta Islamic Indeks (JII) terkoreksi 2,24% (YTD).

Analis Infovesta, Edbert Suryajaya, Rabu (7/12) bilang walaupun dalam jangka waktu hampir setahun masih merugi, namun kinerja dari reksadana indeks dapat dikatakan berhasil. "Karena keberhasilan reksadana indeks diukur dari kedekatan imbal hasilnya dengan indeks acuan," tutur Edbert.

Namun Edbert menuturkan, jika investor memiliki pandangan positif mengenai tren indeks acuan masing-masing reksadana indeks ke depannya, maka investor bisa masuk untuk diversifikasi investasinya dengan mengetahui dengan benar prospektus dari produk ini dan juga risiko yang akan dihadapi ke depannya. "Karena reksadana indeks akan selalu mengikuti indeks acuannya. Malah kinerja dikatakan tidak baik jika imbal hasil produk terlalu tinggi atau terlalu di bawah indeks acuannya," ulas Edbert.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×