kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   -17,00   -0,09%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Sentimen Global & Proyeksi Bank Dunia Warnai Laju Rupiah Rabu (7/10)


Selasa, 06 Oktober 2026 / 16:48 WIB
Sentimen Global & Proyeksi Bank Dunia Warnai Laju Rupiah Rabu (7/10)
ILUSTRASI. Uang rupiah (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diwarnai oleh beragam sentimen, mulai dari eskalasi geopolitik, prospek suku bunga The Fed, hingga revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia.

Melansir data Bloomberg pada Selasa (6/10/2026), rupiah spot berada di level Rp 17.899 per dolar AS atau menguat 0,10%.

Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia mencatat penguatan 0,039% ke level Rp 17.910 per dolar AS dibandingkan posisi hari sebelumnya di level Rp 17.917 per dolar AS.

Baca Juga: Prospek Emiten Energi Terbarukan Hingga 2027 Masih Positif

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pada Selasa (6/10/2026) pergerakan rupiah dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah akibat konflik di Yaman dan Arab Saudi, serta melesetnya data inflasi dan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang meredam dominasi dolar.

Sedangkan untuk Rabu (6/10/2026), Ibrahim menjelaskan bahwa pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh rilis laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) AS bulan Agustus yang berada di bawah ekspektasi pasar, memberikan katalis pergerakan yang signifikan.

"Secara keseluruhan, data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang," ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (6/10/2026).

Para pelaku pasar global kini tengah mengambil sikap waspada menantikan rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September pada hari Rabu, yang disusul oleh data klaim awal tunjangan pengangguran pada hari Kamis.

Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari Bank Dunia yang merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 sebesar 0,5 poin persentase menjadi 5,2%.

Lonjakan pertumbuhan ini utamanya ditopang oleh menguatnya konsumsi swasta, besarnya subsidi energi, serta implementasi program prioritas seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Baca Juga: Arah Pergerakan Rupiah pada Rabu (7/10) Bergantung pada Data Cadev & Risalah The Fed

Momen Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, serta pencairan THR dan gaji ke-13, juga terbukti berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal.

Langkah pemerintah mempertahankan subsidi bahan bakar turut dinilai sukses menahan tekanan inflasi, membawa tingkat inflasi turun dari 4,8% pada Februari menjadi 3,4% pada Juli 2026.

Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa terdapat sejumlah tantangan struktural yang berpotensi menahan laju penguatan rupiah.

Aktivitas ekonomi domestik tampak melemah, yang terindikasi dari turunnya indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menjadi 49,3 pada Agustus dan melesunya tingkat kepercayaan konsumen ke level 116,8 pada Juli.

Pelebaran defisit turut memicu kekhawatiran pasar terhadap tren fiskal dan peringkat utang negara, di mana arus modal keluar portofolio sempat mencapai 0,2% dari produk domestik bruto (PDB) pada kuartal pertama.

"Di samping itu, Bank Dunia memproyeksikan bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia diperkirakan akan melebar menjadi 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2026," papar Ibrahim.

Mempertimbangkan dinamika eksternal dan fundamental makroekonomi domestik tersebut, Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah pada perdagangan Rabu (7/10/2026) akan bergerak fluktuatif.

Nilai tukar rupiah diperkirakan berpeluang ditutup melemah pada rentang proyeksi Rp 17.890 hingga Rp 17.940 per dolar AS.

Baca Juga: Simak Prospek ETF Emas di Tengah Ketidakpastian Pasar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×