kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Sektor konsumer membatasi iklan, begini prospek industri media tahun ini


Senin, 06 Mei 2019 / 10:21 WIB

Sektor konsumer membatasi iklan, begini prospek industri media tahun ini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis sektor media pada tahun ini diprediksi kurang menarik, meskipun pada kuartal I 2019 mencatat pertumbuhan kinerja positif. Pasalnya, sejumlah industri konsumer membatasi iklan mereka di tengah penurunan pendapatan. Hal ini kian diperparah dengan dibatasinya iklan dari industri rokok. Karena itu, sejumlah analis menilai prospek industri media relatif kurang bergairah di tahun ini.

Pada kuartal I 2019 kinerja PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN, anggota indeks Kompas100 ) cukup positif dengan pendapatan naik 18% menjadi Rp 1,88 triliun. Hal serupa juga dialami PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) juga yang mencatat kinerja positif dengan pertumbuhan penadapatan 8,12% menjadi Rp 1,25 triliun.


Meski kinerja beberapa saham sektor media tersebut positif di kuartal I, analis masih memandang sektor media kurang atraktif. "Kinerja keuangan sektor media tidak sebagus dulu, semenjak iklan rokok dibatasi, padahal iklan rokok yang biasanya berbiaya lebih tinggi dari iklan lain," kata Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe, Minggu (5/5).

Hal senada juga disampaikan Christine Natasya Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Ia menuturkan,sektor media masih kurang atraktif karena masih besarnya ketergantungan perolehan pendapatan iklan dari sektor konsumer. Padahal, kini Chirstine mengamati sektor konsumer cenderung mengurangi belanja iklan di tengah pendapatan yang belum tumbuh signifikan.

"Netral untuk sektor media karena belanja iklan oleh perusahaan konsumer dinilai belum efisien saat top line tidak tumbuh tinggi," kata Chirstine, Jumat (3/5).

Sektor media kini masih menggantungkan pendapatan iklan dari free to air (FTA), Christine mencatatkan pendapatan iklan dari FTA TV menyumbang 90% pada total pendapatan sektor media. Ia memproyeksikan pendapatan dari pos ini akan semakin terbatas dengan maraknya iklan digital atau iklan daring.

Meski begitu, kedua pemain besar sektor media, yaitu MNCN dan SCMA tengah berekspansi pada bisnis media digital karena menyadari perubahan industri ini. Namun, Christine lebih menjagokan MNCN di sektor media karena memiliki valuasi yang murah serta bisnis digital media yang sudah lebih lama terbentuk daripada SCMA.

Peningkatan pendapatan MNCN di kuartal I 2019 juga ditopang dari iklan digital. Perseroan menyebutkan MNCN saat ini terlibat dalam media digital dan inisiatif kreatif melalui siaran digital, frame pemasaran, sponsor bawaan dan iklan virtual yang meningkatkan pendapatan dan ruang ekspansi lebih lanjut.

Sementara, SCMA terhitung baru bekerjasama dengan induk perusahaan PT Elang Mahkota Teknologi (EMTK) dalam mengembangkan bisnis media digital. "Rencana SCMA mengejar diversifikasi bisnis digital masih akan membutuhkan biaya produksi yang cukup tinggi, revenue yang belum signifikan tumbuh tetapi di saat yang sama harus mengeluarkan capex ini yang menjadi concern investor," kata Christine.

Selain itu, juga masih diperlukan waktu hingga keuntungan dapat terealisasi di laporan keuangan. Di tengah rekomendasi netral yang Christine berikan, kemungkinan kinerja sektor media bisa tumbuh jika sektor fast moving consumer good (FMCG) juga mendapat katalis positif dengan margin yang makin tebal seiring dengan nilai tukar rupiah stabil dan rendahnya biaya pengepakan produk. Harapannya, sektor FMCG jadi memiliki ruang lebih dalam membeli iklan.

Kiswoyo menambahkan kinerja sektor media yang positif di kuartal I 2019 juga disokong dari penyelenggaraan pemilihan umum yang membuat tren belanja iklan di sejumlah media meningkat di kategori pemerintah dan organisasi publik.

Di kuartal II 2019, kinerja sektor media, Kiswoyo proyeksikan masih akan positif karena tersokong jelang Ramadhan karena meningkatnya konsumsi masyarakat membuat sektor konsumer jadi gencar membeli iklan.

Ia merekomendasikan MNCN dan SCMA masih layak beli tetapi lebih baik dipegang untuk jangka panjang. Hingga akhir tahun target harga SCMA berada di Rp 2.200 per saham. Sedangkan, target harga untuk MNCN Rp 1.500 per saham.

Sementara, Christine merekomendasikan hold untuk SCMA di target harga Rp 1.750 dan merekomendasikan trading buy untuk MNCN di target harga Rp 1.100 per saham.

Hingga akhir tahun Christine memproyeksikan pendapatan MNCN tumbuh ke Rp 7,71 triliun dari Rp 7,44 triliun di 2018. Sedangkan laba bersih juga diproyeksikan tumbuh ke Rp 1,91 triliun dari Rp 1,53 triliun.

Sementara, Christine juga memproyeksikan pendapatan SCMA tumbuh Rp 5,26 triliun di akhri tahun ini dari Rp 5 triliun di akhir tahun lalu. Laba bersih pun tumbuh menjadi Rp 1,59 triliun dari Rp 1,48 triliun di tahun lalu.


Reporter: Danielisa Putriadita
Editor: Noverius Laoli

Video Pilihan


Close [X]
×