kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Saham-saham emiten BUMN dominan turun, begini pendapat analis


Minggu, 06 Oktober 2019 / 17:53 WIB

Saham-saham emiten BUMN dominan turun, begini pendapat analis
ILUSTRASI. Bursa Efek Indonesia


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak awal tahun hingga hingga Jumat (4/10), dari 36 saham emiten badan usaha milik negara (BUMN) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), hanya 15 emiten yang menunjukkan kenaikan harga saham. Sisanya harga sahamnya menurun dengan kisaran 0,94% hingga 79,08%.

Jika dilihat lebih lanjut, ada 10 saham dengan penurunan paling dalam, yaitu PT Indofarma Tbk (INAF), PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), PT Phapros Tbk (PEHA), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO), PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), dan PT Bank BRIsyariah Tbk (BRIS).

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, 10 saham dengan penurunan terdalam dominan diisi oleh emiten dari sektor  semen, farmasi, dan perbankan. Menurut dia, penurunan saham sektor semen dipengaruhi bisnis properti yang tengah lesu beberapa tahun ke belakang.

"Nah kalau kita lihat semen itu banyak dikonsumsi oleh properti. Jadi, kalau properti belum bangkit,  industri semen juga agak sulit bangkit. Terlebih lagi, semen yang diminta sektor properti lebih banyak dibanding yang pemerintah pakai," kata Hans saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (6/10).

Baca Juga: Meski Kapitalisasi Pasar Lebih Kecil, Saham-Saham Ini Memberikan Cuan Lebih Besar

Menurut dia, sinyal kebangkitan sektor properti belakangan ini belum cukup kuat untuk turut mendorong sektor semen. Di samping itu, sektor semen juga tengah mengalami kelebihan pasokan karena ada produsen semen dari luar negeri yang menjadi pesaing semen Tanah Air karena dijual dengan harga yang lebih murah.

Untuk sektor farmasi, penurunannya disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang cenderung melemah. Maklum saja, menurut Hans, bahan baku farmasi banyak berasal dari luar negeri karena produk dalam negeri tak mampu bersaing secara harga.

Untuk saham-saham  perbankan yang menjadi tantangan adalah level loan to deposit ratio (LDR) yang tinggi dan non-performing loan (NPL) yang  bergerak naik.

Sementara itu, jika ditarik lebih luas, Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony mengatakan, emiten-emiten sektor konstruksi dan perbankan menjadi emiten BUMN yang paling banyak ada dalam penurunan ini. Menurut dia, kondisi ekonomi global yang cenderung memburuk, ditambah demonstrasi di Tanah Air akibat suhu politik yang masih cukup panas membuat saham emiten-emiten ini tertekan.

Terlebih lagi, menurut dia emiten-emiten konstruksi mencatatkan penurunan laba. "Namun hal ini tergolong wajar karena pada tahun lalu konstruksi mendapat proyek cukup besar sehingga tahun ini terlihat penurunan," ucap dia.

Sementara itu, emiten-emiten perbankan secara fundamental ia nilai masih menarik. 

Untuk ke depannya, Chris dan Hans menilai, emiten perbankan masih akan  mendapat sentimen positif dari tren penurunan suku bunga. Keduanya merekomendasikan investor untuk mengutamakan saham-saham berkapitalisasi besar (bluechip).

Baca Juga: Tertekan Sepanjang Kuartal III, Bursa Saham Berpotensi Window Dressing di Kuartal IV

Selanjutnya, Chris juga merekomendasikan investor untuk buy saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) karena mendapat sentimen dari kenaikan harga emas, lalu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) seiring dengan proyek Palapa Ring yang diproyeksi selesai tahun ini yang dapat memperluas jangkauan TLKM.

Kemudian, ia juga merekomendasikan buy saham PTBA. Emiten batubara ini ia rekomendasikan karena harga sahamnya sudah turun cukup dalam.  "Bisnis tambang itu siklusnya cukup cepat. Biasanya setelah tertekan cukup dalam bisa naik cukup tinggi juga. Harga batubara dunia juga sudah berpotensi menguat sehingga PTBA menarik untuk diakumulasi beli," kata dia.

Chris memiliki target harga hingga akhir tahun untuk ANTM Rp 1.200 per saham, TLKM Rp 4.500, dan PTBA Rp 2.800.


Reporter: Nur Qolbi
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan


Close [X]
×