Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham emiten produsen batubara tampak unjuk gigi berkat kenaikan harga yang terjadi pada awal 2026. Hal ini memicu harapan akan perbaikan sektor industri batubara sepanjang 2026 berjalan.
Sejumlah saham produsen batubara tampak mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir. Contohnya adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang mengalami kenaikan harga saham 6,93% year to date (ytd) ke level Rp 2.470 per saham hingga Selasa (20/1).
Selain itu, ada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang naik 13,11% ytd ke level Rp 414 per saham, kemudian saham PT Indika Energy Tbk (INDY) yang melesat 63,84% ytd ke level Rp 3.670 per saham, hingga saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang menguat 2,40% ytd ke level Rp 22.400 per saham.
Saham-saham emiten Grup Alamtri juga menguat, seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang melonjak 23,76% ytd ke level Rp 2.240 per saham, lalu saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang terbang 32,05% ytd ke level Rp 2.060 per saham, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang naik 7,53% ytd ke level Rp 7.500 per saham.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Pullback pada Rabu (21/1), Ini Kata Analis
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, tren kenaikan saham batubara sebagian dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa kebijakan pemangkasan produksi batubara nasional pada 2026 akan membantu menahan tekanan harga dan mengurangi risiko kelebihan pasokan (oversupply) global.
"Sentimen ini memicu optimisme investor meski permintaan ekspor tetap lemah, sehingga saham mencatatkan reli year to date," ujar dia, Selasa (20/1).
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menambahkan, sentimen eksternal juga ikut menopang pergerakan saham batubara. Di antaranya adalah stabilisasi harga energi dunia, meningkatnya kebutuhan energi dari negara-negara Asia seperti China dan India, serta pandangan bahwa harga batubara sudah berada di area bawah siklus.
Kondisi ini mendorong investor untuk melakukan akumulasi selektif pada saham batubara yang sebelumnya sempat tertekan cukup dalam. "Hal ini mendorong kenaikan harga saham meski pemulihan harga batubara global belum sepenuhnya terjadi," tutur dia, Selasa (20/1/2026).
Baca Juga: IHSG Diprediksi Bergerak Sideways pada Rabu (21/1), Saham-Saham Ini Bisa Dicermati
Terlepas dari itu, Abida memperkirakan prospek kinerja emiten batubara pada 2026 relatif bervariasi.
Meski penurunan produksi batubara nasional diharapkan dapat menstabilkan harga, pasar global masih dilanda oversupply seiring permintaan dari China dan India yang belum sepenuhnya pulih sehingga risiko penurunan ekspor masih bisa terjadi.
Di sisi lain, permintaan batubara di pasar domestik terutama dari sektor kelistrikan dan industri strategis tetap menjadi penopang bagi emiten, namun belum cukup menggantikan volume ekspor yang menyusut.
Dari situ, emiten batubara yang mampu mengoptimalkan efisiensi produksi, memiliki cadangan batubara berkualitas kompetitif, serta kemampuan diversifikasi pasar domestik dan kontrak bayar tetap (off-take) kemungkinan besar akan lebih unggul kinerjanya pada 2026.
"Selain itu, perusahaan dengan struktur biaya rendah dan eksposur domestic market obligation (DMO) yang efisien bisa bertahan lebih baik di tengah tekanan harga global," jelas dia.
Sementara menurut Hendra, emiten batubara yang mulai melakukan transformasi bisnis ke sektor energi terbarukan, hilirisasi, atau mineral strategis dinilai memiliki ketahanan jangka menengah yang lebih kuat.
Dalam konteks ini, emiten seperti ADRO dan AADI diuntungkan oleh diversifikasi portofolio energi, sedangkan INDY memperoleh sentimen positif dari transformasi ke sektor nonbatubara. Adapun ITMG tetap menarik dari sisi kekuatan arus kas dan potensi dividen, meski karakter pergerakan sahamnya cenderung lebih defensif.
Baca Juga: IHSG Terus Naik saat Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000, Ada Apa?
Hendra pun merekomendasikan speculative buy saham ADRO dan AADI dengan target harga Rp 2.400 per saham dan Rp 8.000 per saham. Saham INDY dan ITMG turut direkomendasikan trading buy dengan target harga masing-masing di level Rp 4.000 per saham dan Rp 23.000 per saham.
"Sektor batubara masih memiliki daya tarik sepanjang tahun ini, khususnya untuk strategi trading dan spekulatif meski tidak lagi berada pada fase supercycle," ungkap dia.
Di lain pihak, Abida menyebut saham batubara tetap menarik secara spekulatif jika kebijakan produksi memang dapat mengerek harga komoditas, namun risiko permintaan global yang stagnan menuntut investor harus lebih selektif.
Saham-saham seperti ADRO, AADI, ITMG, dan PTBA dapat dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 2.630 per saham, Rp 9.850 per saham, Rp 27.300 per saham, dan Rp 3.100 per saham.
Selanjutnya: Kebijakan Beras Diuji: Harga Gagal Turun, El Nino Siap Menerjang
Menarik Dibaca: Pastikan Kanal Pemesanan Tiket Lebaran Stabil, KAI Lakukan Migrasi Sistem Besok
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













