Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) bangkit tajam pada perdagangan Senin (3/8/2026). Harga saham emiten produsen makanan dan minuman dengan merek Inaco itu melesat 24,6% ke level Rp 785 per saham,
Namun kondisi rebound saham JELI tidak berlangsung lama. Saham JELI pada Selasa (4/8/2026) kembali turun 7,64% di Rp 725 per saham. Akibatnya dalam sebulan terakhir saham JELI turun 35,56%.
Rebound tersebut terjadi setelah emiten yang baru tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Juli 2026 ini memberikan klarifikasi mengenai aksi jual tidak wajar (abnormal trading activity) yang sempat memicu tekanan besar pada harga saham.
Corporate Secretary PT Niramas Utama Tbk Felicia Novianti Lukman dalam keterbukaan informasi di BEI pada 1 Agustus 2026 menjelaskan, pada perdagangan Kamis (30/7/2026) muncul antrean penawaran jual sekitar 68 juta lot di order book. Jumlah tersebut jauh melampaui total saham JELI yang tercatat di bursa sebanyak 12,66 juta lot maupun saham publik (free float) yang hanya mencapai 2,66 juta lot.
Baca Juga: Asing Net Sell Rp 708 Miliar di Awal Agustus, Cek Saham yang Banyak Dijual
Manajemen kemudian melakukan pertemuan dengan BEI pada 30 Juli 2026 untuk menelusuri penyebab kejadian tersebut.
Berdasarkan hasil penelusuran awal, BEI memastikan penumpukan antrean jual itu bukan disebabkan gangguan sistem bursa, serangan siber, maupun glitch pada sistem perdagangan BEI.
Sebaliknya, insiden tersebut berasal dari kesalahan (error) pada sistem salah satu Anggota Bursa (AB), yang menyebabkan munculnya volume penawaran jual dalam jumlah sangat besar di order book. Permasalahan tersebut hingga kini masih dalam proses penanganan.
Felicia mengatakan antrean jual yang tidak wajar sempat memicu kepanikan pelaku pasar sehingga menekan harga saham JELI dan berdampak terhadap reputasinya di pasar modal.
Meski demikian, dia menegaskan insiden tersebut tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha perusahaan.
"Operasional dan fundamental JELI tetap terjaga. Perusahaan tetap berkomitmen pada keterbukaan informasi, penerapan Good Corporate Governance (GCG), serta komunikasi yang transparan dengan investor dan regulator," ujar Felicia dalam keterbukaan informasi.
Namun jika ditengok, realisasi kinerja produsen Inaco ini memang belum sepenuhnya mentereng. Hingga semester I-2026, emiten ini membukukan penurunan penjualan sebesar 34,06% menjadi Rp 212,06 miliar dibandingkan Rp 321,60 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Penurunan penjualan membuat laba bruto menyusut 36,67% secara tahunan menjadi Rp 72,88 miliar. Padahal JELI berhasil ditekan beban penjualan, tapi kenaikan beban umum dan administrasi serta beban keuangan menggerus profitabilitas perusahaan.
Akibatnya, JELI membukukan rugi sebelum pajak sebesar Rp 37,40 miliar, berbalik dari laba sebelum pajak Rp 12,15 miliar pada semester I 2025.
Baca Juga: BEI: Masih Ada 6 Perusahaan Besar Antre IPO, Setelah JELI BACH PRDL Diserbu Investor
Rugi bersih juga membengkak menjadi Rp 39,53 miliar, dibandingkan rugi bersih Rp 16,18 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi neraca, total aset JELI menyusut 32,67% menjadi Rp 371,75 miliar per 30 Juni 2026, terutama akibat penurunan kas dan setara kas menjadi Rp 17,60 miliar dari Rp 95,54 miliar pada akhir 2025, serta menyusutnya piutang usaha menjadi Rp 64,08 miliar dari Rp 174,13 miliar.
Di sisi lain, total liabilitas berhasil ditekan 34,64% menjadi Rp 265,75 miliar, terutama karena penurunan utang bank jangka pendek dan utang usaha. Namun, penurunan kinerja membuat total ekuitas perseroan turun menjadi Rp105,99 miliar dari Rp 145,52 miliar pada akhir tahun lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
