Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPCBaca Juga: Impack Pratama (IMPC) Bakal Tebar Dividen Interim Rp 273,42 Miliar, Cek Jadwalnya
) terkoreksi lebih dari 27% dalam sebulan terakhir.
Di tengah tekanan tersebut, pemegang saham IMPC, Tunggal Jaya Investama menambah kepemilikannya dengan membeli 10,43 juta saham pada 8, 9, dan 12 Oktober 2026. Total nilai transaksi pembelian tersebut mencapai sekitar Rp 13,29 miliar.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai pemulihan harga saham IMPC perlu dicermati secara hati-hati.
Setelah terkoreksi cukup dalam, saham berpotensi mengalami technical rebound seiring aksi beli pada area harga yang lebih rendah. Namun, menurutnya, rebound tersebut belum tentu menandakan perubahan tren menjadi bullish.
Alrich menilai aksi pembelian saham oleh Tunggal Jaya Investama dapat menjadi sentimen positif karena menunjukkan adanya penambahan kepemilikan.
Meski demikian, aksi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa sentimen investor secara keseluruhan telah berbalik positif.
Baca Juga: Harga Saham Melorot 63%, Pengendali Tak Ragu Borong Saham IMPC
“Konfirmasi tetap perlu dilihat dari keberlanjutan volume buy dan mampu breakout dari resistance secara bertahap,” ujarnya kepada Kontan (15/10/2026).
Menurut Alrich, koreksi saham IMPC perlu dilihat dari kombinasi sentimen pasar, ekspektasi pertumbuhan, dan valuasi.
Ketika tekanan pasar meningkat, saham dengan ekspektasi pertumbuhan tinggi berpotensi mengalami koreksi lebih dalam karena investor menyesuaikan valuasi dan mengurangi risiko.
Dari sisi fundamental, kinerja IMPC pada kuartal I-2026 masih positif. Pendapatan meningkat 25,4% secara tahunan menjadi Rp 1,18 triliun, sedangkan laba bersih meningkat 32,9% menjadi Rp 202,6 miliar.
Meski demikian, IMPC menghadapi sejumlah tantangan, antara lain kenaikan harga bahan baku, biaya logistik, serta keterbatasan pasokan polimer akibat dinamika geopolitik global.
“Artinya, koreksi belum tentu menunjukkan fundamental perusahaan memburuk, tetapi investor perlu menilai apakah pertumbuhan laba ke depan mampu menopang valuasi sahamnya,” jelas Alrich.
Baca Juga: IMPC Perkuat Ekosistem Industri Polimer, Gelontorkan Investasi Rp 250 Miliar
Secara fundamental, prospek IMPC masih ditopang oleh kebutuhan material bangunan dan produk polimer, pengembangan produk, serta peluang pertumbuhan pasar.
Manajemen sebelumnya menargetkan pendapatan sebesar Rp 5,1 triliun dan laba bersih di atas Rp 700 miliar pada 2026. Realisasi kinerja pada kuartal berikutnya akan menjadi salah satu faktor penting untuk menilai pencapaian target tersebut.
Adapun katalis positif bagi IMPC meliputi pertumbuhan pendapatan dan laba, normalisasi biaya bahan baku dan logistik, serta perbaikan sentimen pasar.
Sebaliknya, risiko yang perlu dicermati mencakup tekanan daya beli dan aktivitas konstruksi, kenaikan biaya produksi, gangguan rantai pasok, serta potensi koreksi lanjutan apabila harga saham gagal membentuk tren pemulihan yang konsisten.
Baca Juga: Pendapatan dan Laba Bersih IMPC Kompak Tumbuh Double Digit di Kuartal I-2026
Dari sisi teknikal, Alrich menilai saham IMPC telah menembus ke bawah area support 1300. Kondisi tersebut menjadi konfirmasi berlanjutnya tren bearish sehingga saham IMPC dinilai belum menarik untuk entry saat ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














